Kamis, 16 Desember 2010

163 SURAT


A

nak kecil itu percaya, Ia dapat menulis Surat pada Allah. Katanya, Masa Tuhan Mahakuasa tak bisa baca? Masa Ia tak bisa kirim malaikat untuk ambil surat di kotak surat oranye di pinggir jalan? Masa Ia hanya mau mendengar orang yang sujud menyusun kata dalam do’a? Masa Ia tak bisa berkomunikasi secara tertulis? Masa di surga yang serba ada itu, nggak ada kantor pos?”
      Dan, anak itu menulis surat pada Allah, kapanpun ia ingin. Di dunia ini, hanya ia dan ibunya yang tahu kegiatan menulis surat itu. Di luar dunia, tentu Allah dan para malaikat-Nya. Yang ditulis macam – macam mulai dari pistol air yang diisi sirop strawberry hingga beda vitamin dan obat.
      Diantara topik – topik itu ada keluhan yang tak bisa ia simpan. Ngomong – ngomong, Allah, kenapa Allah ciptakan kaki kiri dan kananku berhadapan? Tidak lurus menghadap depan, seperti kaki orang kebanyakan? Tidakkah Allah tahu, itu membuatku sulit sekali bergerak.
      Anak itu tahu dari ibunya yang penyabar, selain tulang kakinya yang tumbuh mengecewakan, jantungnya tak sempurna. Dinding antar serambi dijantungnya bocor. Tentang jantung ini, ia tak tertarik, terlalu sulit untuk membayangkan seperti apa jantung itu. Apalagi, memebayangkan jantung itu punya dinding yang bocor.
      Ia juga pernah dengar, jantung bocor itu bisa berujung pada kematian. Kematian? Ah, seandainya itu terjadi, apa sih buruknya kematian? Bukankah si Luna juga mati? Jadi, mati itu artinya, bertemu si Luna, hemmmm lumayan.
“Ibu, ini surat hari ini. “
“Ya, nak “Ibunya mencium kedua pipinya.
“Jangan lupa di poskan. Aku sudah tiga minggu tak menulis surat. Nanti Allah mencari – cari aku. Ibu punya perangko? “
“ Masih nak, Ibu sudah siapkan “.
Sang anak menempelkan pipinya pada pipi sang ibu.
Ketika deru mobil membawa putranya menjauh, sang Ibu membuka amplop dan membaca.
Allah, gini, ya…
Tadi pagi Guru Agama bilang, Allah sang pencipta punya banyak karunia. Makanya ada orang bisa nyanyi kayak Krisdayanti, atau punya badan gede kayak Ade rai, terus, Guru Agama bilang, “ Allah  juga beri umat-Nya kecerdasan. Seperti, Lukman, sang juara kelas “. Mata Guru Agama ngeliatin aku. Mata temen-temen sekelas juga. Hemmmm tapi aku kepingin tahu, kenapa sich, waktu Allah kasih karunia ke aku, nggak tanya-tanya dulu? Biar aku bisa milih. Aku, sich sebenernya lebih kepingin bisa lari, daripada jadi juara kelas.
      Sang Ibu melipat surat itu dan membawanya kekamar. Dalam sebuah laci dikamar itu sudah tersimpan 149 surat dari anaknya kepada Allah. Ini surat ke-150. Sebagai Ibu, dia sering bertanya-tanya, berapa jumlah akhir surat itu. Tapi bulu lehernya yang sering berdiri serentak, membuat ia enggan. Hanya dua sebab yang akan menghentikan surat tersebut. Pertama, si bungsu akhirnya tahu bahwa suratnya tak pernah terkirim serta antara manusia dan Allah tak terjembatani oleh perangko, tapi oleh Iman. Kedua, ketika kebocoran diding jantung si bungsu membuatnya langsung bertemu Allah.
      Untuk yang kedua ini, ia tak berani membayangkan. Untuk yang kedua ini, ia tak pernah sepenuhnya pasrah. Untuk yang kedua, ia selalu lekas – lekas menutup matanya. Aku tahu ia hanya titipan. Tapi, titipkanlah lebih lama.
     
      Ibu, pulang, Aku sesak. Demikian bunyi teks sms yang muncul di ponselnya pagi ini. Lekas – lekas sang Ibu meninggalkan trolley yang penuh barang belanjaan dan menerobos antrean. Ibu datang, nak, Ibu datang. Dalam obrolannya dengan pengasuh sang anak. Ia menerangkan semua langkah yang harus dikerjakan. Nomor telpon Dokter Zaky, obat yang harus diambil, posisi bantal, air putih, lalu ini, lalu itu. Sepanjang jalan di panggilnya nama Allah. Sepanjang jalan di makinya mobil – mobil lain.
“Nak” dilihatnya bibir biru itu.
Ia melihat kedinding. Sepertinya dia melihat banyak orang berbaju putih berdiri di situ. Mengelilingi anaknya. Tapi, ketika ia kedipkan matanya, ternyata hanya satu orang. Dokter Zaky. Kemana orang banyak tadi?
“Sudah lebih baik, Ibu. Bisa kita bicara? ”
“Sebentar Dok” Diciumnya kening yang basah oleh keringat, dibereskannya anak rambut di sekitarnya. Putra tercintanya tampak kelelahan mencari udara untuk napasnya sendiri. Kalau saja Ibu bisa pinjamkan paru-paru Ibu, Nak!
“Sakit, sayang?”
“Enggak, Bu.” Bibir beku itu berusaha tersenyum.
“Ibu, aku nulis surat lagi. Ibu betul-betul mengirim Surat itu nggak, sich? ”
“Eh, kenapa?” Ibunya meremas jemari gugup.
“Kok, Allah nggak pernah bales?”
“Nak, Ibu kan pernah bilang, Allah tak akan balas.”
“Hemmmm…..aku lupa.”
Ibu tersenyum dan membelai rambut anaknya. Ditatapnya sepasang mata itu. Ibu mencintaimu, Nak. Ingat itu, ya.
“Ibu keluar sekarang, ya, sayang?”
Sang anak mengangguk. “Bu, kalau aku jadi Allah, aku pasti bales surat orang-orang. Kan kasihan orang dibiarin nunggu, apalagi, yang sakit kayak aku.”
Ibu tersenyum pada Dokter dan mengajaknya berlalu. Dokter mengatakan telah terjadi atrial septal defect. Artinya, ada kebocoran pada dinding di serambi jantung. Bocornya makin parah dari hari ke hari. Padahal, jantung memompa darah segar ke seluruh tubuh dan menerima darah kotor dari paruh-paruh. Dinding bocor itu membuat darah bersih dan darah kotor bercampur sehingga jantung bekerja makin keras. Makin keras. Makin keras. Hingga akhirnya kelelahan.
Sang ibu tak menangis, meskipun sangat ingin. Dipegangnya lengan Dokter. ” Bisakah Dokter katakan, kapan saat itu tiba?”
“Ibu, saya tidak ingin mendahului Allah. Berdo’alah untuk yang terbaik.”
Sang ibu hanya menatap. Tepekur. Anak itu, sembilan bulan bernafas bersamanya. Muncul di bumi dengan kaki berhadapan. Yang kiri jauh lebih kecil daripada yang kanan. Hatinya hancur. Tapi, suaminya berbisik, “Allah menitipkan makhluk tak berdaya pada kita, sepenuhnya karena cinta. Kakinya memang kecil dan rapuh, Aminah. Tapi, kaki karena otak memberi parintah. Mari kita isi kepalanya, Aminah, agar bisa menuntun kaki yang tak berdaya.” Kata-kata itu membuka mata hatinya yang terkatup.
Namun, ketika dijumpainya bibir si bungsu berwarna biru sepulang sekolah, kesabarannya habis. Apa lagi ini? Apal lagi? Dokter menyimpulkan, ada yang tak berfungsi baik pada jantungnya.
Ia habis akal. Limbung. Ia hukum dirinya sendiri. Tak ingin bertemu siapa-siapa. Tak percaya pada siapa-siapa. Hingga pukul satu dini hari, di dengarnya si bungsu berkata pada abangnya. “Sini, kukerjakan PR berhitungmu”. Dengan tekun ia mengerjakan tugas abang tersayangnya itu.
Setengah jam kemudian PR itu di periksa sang ibu yang keheranan. Ia tak menemukan kesalahan apa-apa. Diteleponnya sahabatnya yang psikolog.
Mereka bertemu dan didapatnya jawaban. “Aminah, anakmu luar biasa cerdas. Ia bisa jadi apa saja, asal kau sungguh-sungguh memperhatikannya.”
Lantas ia putuskan untuk menyusun keping hati dan jiwanya yang berserakan. Ia bangkit. Ia rangkul sang putra. Ia usap dadanya. Ia tahu disitu ada jantung yang dindingnya bocor. Ia usap kepalanya. Ia tahu disitu ada otak yang sinarnya menyala-nyala. Ia pandang kaki yang berhadapan dan kecil sebelah itu.
Tongkat akan menyelamatkannya. Anakku sungguh tak berbeda dari anak manapun. Ia sekadar lebih cerdas.
“Ibu.”
Sang ibu terlonjak dan segera kembali kekamar.
Anaknya tersenyum sambil melambaikan kertas putih. Ia mengambil dan membacanya dalam diam.
Tadi rasanya kita bertemu, ya? Bener nggak sich? Itu dimana, ya? Kayaknya aku sering kasitu. Tempatnya luas seperti lapangan basket sekolah Abang. Aku mau teriak, “Allah! Allah!” karena rasanya Allah deket banget, tapi, kok, aku nggak bisa lihat, ya? Aku mau pamerin handphone Ayah yang baru. Yang bisa motret, tuh. Ada kamera keciiiil, tapi, hebat banget! Kemaren aku potret si lucky ( anak si luna ) pakai itu. Biar Allah bisa suruh Malaikat ceritain ke si Luna, anaknya udah kayak apa sekarang …… udah segede apa ………
Sang ibu menggigit bibirnya.
“Betul. Nak? Kamu lihat Allah?” diguncangnya bahu anaknya perlahan.
“Kayaknya.”
“Lalu?”
“Lalu ……. Hemmmmm….Mbak Ijah nangis-nangis bangunin aku. Terus, aku merasa sesek banget. Terus, aku SMS Ibu.”
Pengalaman bertahun-tahun telah mengajarkan sang ibu bahwa senyuman bisa menahan jatuhnya air mata.
Sejak serangan terakhir, Sang anak makin jarang kesekolah. Surat-surat juga makin banyak. Karena, kadang-kadang ia menulis lebih dari sekali sehari.
Dalam suratnya ibunya menemukan banyak pertanyaan yang tak bisa ia jawab, seperti ini:
Allah,
Orang-orang selalu bilang, Engkaulah Sang Maha adil. Aku sering disebut-sebut sebagai contoh. Lihat si Lukman. Kakinya boleh pengkor, tapi otaknya ……… Allah memang Mahaadil, begitu kata orang-orang.
Tapi tadi Ibu cerita, Einstein yang pintar banget itu, kakinya biasa-biasa saja? Terus, Dokter Zaky yang sering masuk koran, kakinya juga nggak kayak aku?, ada juga, ya, orang sehat yang pinter. Terus, kenapa aku enggak? Mana adilnya, dong?
Ibu menyimpan surat itu di kamar yang sama. Di laci yang sama. Ibu menghitung surat-surat yang tertumpuk. Seratus enam puluh satu.
Pagi itu sang Ibu membangunkan ketiga putranya dengan kecupan, seperti biasa. Di depan ranjang si bungsu ia terpekur. Dada itu....Ya..Allah...dada itu tak bergerak. Ia mencium kening si bungsu sambil berharap perkiraannya salah. Dingin, sang Ibu memejamkan mata. Lekas-lekas ia memanggil suami dan kedua putranya dalam satu teriakan.
Sang Ayah datang dan lekas-lekas membenamkan kepala sang Ibu di dadanya. Di dada suaminya, wanita itu hanya menutup mata, menggigit bibirnya. Ia tidak menangis. Ia tidak bisa berbuat apa-apa.ia hanya merasakan tulang di sekujur tubuhnya hilang. Ia hanya seonggok daging yang lemas tak berdaya.
Beberapa jam kemudian banyak orang berdatangan. Mencium pipi, sang Ibu merangkulnya. Mengungkapkan ucapan duka cita. Ia seperti robot yang hanya bisa berkata ”terima kasih, do’akan Lukman. Terima kasih, do’akan Lukman”. Beratus-ratus bahkan beribu-ribu kali.
Dari antara tamu-tamu itu, Ijah sang pengasuh datang membawa sehelai kertas. ” Punya Lukman bu, saya lupa memberikan pada ibu”.
Sang Ibu duduk diam sebentar, membaca.
Aku hanya mau bilang, bosen nich minum obat. Pahit!! Lagian, kenapa sich aku musti minum obat melulu? Mati khan nggak apa-apa? Kita bisa bertemu. Bisa bercerita-cerita. Aku bisa lihat si luna. Trus aku nggak mesti ngerasain sesek lagi. Dokter Zaki nggak mesti ngebut dari rumah sakit. Kata orang baru mati, klo’ Allah panggil. Hemmm...jangan-jangan kemaren Allah panggil aku bisik-bisik ya? Kurang kenceng, kali? Aku kok nggak denger apa-apa? Nanti, klo’ Allah panggil aku lagi dan aku nggak dateng-dateng, sabar yah...itu artinya aku sedang nonton lord of the ring : the two tower. Aku suka banget. Aku tonton sepuluh kali. Di sana bisa nonton DVD nggak?
Tamu terus berdatangan. Seorang anak muda bertanya, ”Ibunya Lukman?” sang ibu mengangguk, alisnya mengeryit.
”Lukman bilang, kalau kangen dia, baca saja surat-suratnya”.
Sang ibu melongo. Di tatapnya orang itu tak brkedip. Diabaikannya semua tamu yang menyalaminya. Ia menatap tamu tadi, diantara tamu-tamu lain. Ia tersenyum padanya. Ketika ia selesai bersalaman dengan para pelayat, sang Ibu datang ketempat tamu itu duduk. Tapi, ia sudah tak ada.
Tiba-tiba sang Ibu sadar, ia tak bisa mengingat wajah orang itu. Sedikitpun. Tidak sedikitpun.
Tiga hari setelah kepergian anaknya, sang Ibu membuka laci di pinggir ranjangnya. Di sana ada tumpukan surat sang anak pada Sang Pencipta. Ia teringat anak muda yang sempat melayat. Ia percaya, orang itu malaikat, teman Lukman yang baru.
Ia mengeluarkan semua surat dan menghitungnya. Ada 163 amplop. Ia hafal isinya di luar kepala, sampai titik dan koma. Ia ingat di surat terakhir, yang ke-163, si bungsu menyebut The lord of the rings. Di bukanya surat itu, dan tertegun.

Allah,...
Tolong dong, kasih tahu Ibu, bohong itu dosa. Dosa artinya nyakitin hati Allah. Ibu selalu bilang kirim surat-surat aku. Padahal di simpan doang di laci. Tapi, Allah nggak usah marah sama Ibu. Biar tukang ngibul begitu, Ibu baik. Sayang sama Bapak dan Abang-abangku, apalagi sama aku. Kayaknya sich, Ibu tahu, bohong itu dosa. Cuma, barangkali, Ibu lupa....

Rabu, 15 Desember 2010

2 Kisah menarik Rosulullah SAW

 Suatu Kisah dari Rasulullah :
- Di suatu pagi hari, Rasulullah SAW bercerita kepada para sahabatnya, bahwa semalam beliau didatangi dua orang tamu. Dua tamu itu mengajak Rasulullah untuk pergi ke suatu negeri,
dan Rasul menerima ajakan mereka. Akhirnya mereka pun pergi bertiga.
http://alisalehwangeng.files.wordpress.com/2010/01/nabi-muhammad.jpg

Ketika dalam perjalanan, mereka mendatangi seseorang yang tengah berbaring. Tiba-tiba di dekat kepala orang itu ada orang lain yang berdiri dengan membawa sebongkah batu besar. Orang yang membawa batu besar itu dengan serta merta melemparkan batu tadi ke atas kepala orang yang sedang berbaring, maka remuklah kepalanya dan menggelindinglah batu yang dilempar tadi. Kemudian orang yang melempar batu itu berusaha memungut kembali batu tersebut. Tapi dia tidak bisa meraihnya hingga kepala yang remuk tadi kembali utuh seperti semula. Setelah batu dapat diraihnya, orang itu kembali melemparkan batu tersebut ke orang yang sedang berbaring tadi, begitu seterusnya ia melakukan hal yang serupa seperti semula.

Melihat kejadian itu, Rasulullah bertanya kepada dua orang tamu yang mengajaknya, “Maha Suci Allah, apa ini?”
“Sudahlah, lanjutkan perjalanan!” jawab keduanya.
Maka mereka pun pergi melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan, mereka mendatangi seseorang lagi. Orang tersebut sedang terlentang dan di sebelahnya ada orang lain yang berdiri dengan membawa gergaji dari besi. Tiba-tiba digergajinya salah satu sisi wajah orang yang sedang terlentang itu hingga mulut, tenggorokan, mata, sampai tengkuknya.

Kemudian si penggergaji pindah ke sisi yang lain dan melakukan hal yang sama pada sisi muka yang pertama. Orang yang menggergaji ini tidak akan pindah ke sisi wajah lainnya hingga sisi wajah si terlentang tersebut sudah kembali seperti sediakala. Jika dia pindah ke sisi wajah lainnya, dia akan menggergaji wajah si terletang itu seperti semula. Begitu seterusnya dia melakukan hal tersebut berulang-ulang.

Rasulullah pun bertanya, “Subhanallah, apa pula ini?”
Kedua tamunya menjawab, “Sudah, menjauhlah!”

Maka mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Selanjutnya mereka mendatangi sesuatu seperti sebuah tungku api, atasnya sempit sedangkan bagian bawahnya besar, dan menyala-nyala api dari bawahnya. Di dalamnya penuh dengan jeritan dan suara-suara hiruk pikuk. Mereka pun melongoknya, ternyata di dalamnya terdapat para lelaki dan wanita dalam keadaan telanjang. Dan dari bawah ada luapan api yang melalap tubuh mereka. Jika api membumbung tinggi mereka pun naik ke atas, dan jika api meredup mereka kembali ke bawah. Jika api datang melalap, maka mereka pun terpanggang.

http://abizakii.files.wordpress.com/2010/03/muhammad-saw2.jpg
Rasulullah kembali bertanya, “Siapa mereka?”
Kedua tamunya menjawab, “Menjauhlah, menjauhlah!”

Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka mendatangi sebuah sungai, sungai yang merah bagai darah. Ternyata di dalam sungai tadi ada seseorang yang sedang berenang, sedangkan di tepi sungainya telah berdiri seseorang yang telah mengumpulkan bebatuan banyak sekali. Setiap kali orang yang berenang itu hendak berhenti dan ingin keluar dari sungai, maka orang yang ditepi sungai mendatangi orang yang berenang itu dan menjejali mulutnya sampai ia pun berenang kembali. Setiap kali si perenang kembali mau berhenti, orang yang di tepi sungai kembali menjejali mulut si perenang dengan bebatuan hingga dia kembali ke tengah sungai.

Rasulullah pun bertanya, “Apa yang dilakukan orang ini?!”
“Menjauhlah, menjauhlah!” jawab kedua tamunya.
Maka mereka pun melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan kali ini, mereka mendapatkan seseorang yang amat buruk penampilannya, sejelek-jeleknya orang yang pernah kita lihat penampilannya, dan di dekatnya terdapat api. Orang tersebut mengobarkan api itu dan mengelilinginya.

“Apa ini?!” tanya Rasulullah
“Menjauhlah, menjauhlah!” jawab kedua tamunya.
Lalu mereka melanjutkan perjalanan lagi. Dalam perjalanan mereka menemukan sebuah taman yang indah, dipenuhi dengan bunga-bunga musim semi. Di tengah taman itu ada seorang lelaki yang sangat tinggi, hingga Rasulullah hampir tidak bisa melihat kepala orang itu karena tingginya. Di sekeliling orang tinggi itu banyak sekali anak-anak yang tidak pernah Rasul lihat sebegitu banyaknya.

Melihat itu, Rasulullah kembali bertanya, “Apa ini? Dan siapa mereka?”
Kedua tamunya menjawab, “Menjauhlah, menjauhlah!”
Maka mereka pun pergi berlalu. Lalu mereka menyaksikan sebuah pohon yang amat besar, yang tidak pernah Rasul lihat pohon yang lebih besar dari ini. Pohon ini juga indah. Kedua tamu Rasul berkata, “Naiklah ke pohon itu!”

Lalu mereka pun memanjatnya. Rasul dituntun menaiki pohon dan dimasukkannya ke dalam sebuah rumah yang sangat indah yang tak pernah Rasul lihat seumpamanya. Di dalamnya terdapat lelaki tua dan muda. Lalu mereka sampai pada sebuah kota yang dibangun dengan batu bata dari emas dan perak. Mereka mendatangi pintu gerbang kota itu. Tiba-tiba pintu terbuka dan mereka memasukinya.

Mereka disambut oleh beberapa orang, sebagian mereka adalah sebaik-baik bentuk dan rupa yang pernah kita lihat, dan sebagiannya lagi adalah orang yang seburuk-buruk rupa yang pernah kita lihat. Kedua tamu yang bersama Rasulullah berkata kepada orang-orang itu, “Pergilah, dan terjunlah ke sungai itu!”
Ternyata ada sungai terbentang yang airnya sangat putih jernih. Mereka pun segera pergi dan menceburkan dirinya masing-masing ke dalam sungai itu. Kemudian mereka kembali kepada Rasululullah dan dua tamunya. Kejelekan serta keburukan rupa mereka tampak telah sirna, bahkan mereka dalam keadaan sebaik-baik rupa!

Lalu kedua orang tamu Rasulullah berkata, “Ini adalah Surga ‘Adn, dan inilah tempat tinggalmu!”
“Rumah pertama yang kau lihat adalah rumah orang-orang mukmin kebanyakan, adapun rumah ini adalah rumah para syuhada’, sedangkan aku adalah Jibril dan ini Mika’il. Maka angkatlah mukamu (pandanganmu).”
Maka mata Rasulullah langsung menatap ke atas, ternyata sebuah istana bagai awan yang sangat putih. Kedua tamu Rasulullah berkata lagi, “Inilah tempat tinggalmu!”

Rasulullah berkata kepada mereka, “Semoga Allah memberkati kalian.”
Kedua tamu itu lalu hendak meninggalkan Rasulullah. Maka Rasulullah pun segera ingin masuk ke dalamnya, tetapi kedua tamu itu segera berkata, “Tidak sekarang engkau memasukinya!”
“Aku telah melihat banyak keajaiban sejak semalam, apakah yang kulihat itu?” tanya Rasulullah kepada mereka.

Keduanya menjawab, “Kami akan memberitakan kepadamu. Adapun orang yang pertama kau datangi, yang remuk kepalanya ditimpa batu, dia itu adalah orang yang membaca Al Qur’an tetapi ia berpaling darinya, tidur di kala waktu shalat fardhu (melalaikannya). Adapun orang yang digergaji mukanya sehingga mulut, tenggorokan, dan matanya tembus ke tengkuknya, adalah orang yang keluar dari rumahnya dan berdusta dengan sekali-kali dusta yang menyebar ke seluruh penjuru.

Adapun orang laki-laki dan perempuan yang berada dalam semacam bangunan tungku, maka mereka adalah para pezina. Adapun orang yang kamu datangi sedang berenang di sungai dan dijejali batu, maka ia adalah pemakan riba. Adapun orang yang sangat buruk penampilannya dan di sampingnya ada api yang ia kobarkan dan ia mengitarinya, itu adalah malaikat penjaga neraka jahannam.

Adapun orang yang tinggi sekali, yang ada di tengah-tengah taman, itu adalah Ibrahim AS. Sedangkan anak-anak di sekelilingnya adalah setiap bayi yang mati dalam keadaan fitrah.”

Lalu di sela-sela penyampaian cerita ini, para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan anak orang-orang musyrik?”
Rasulullah menjawab, “Dan anak orang-orang musyrik.”
Lalu Rasulullah SAW melanjutkan ceritanya.
Adapun orang-orang yang sebagian mukanya bagus, dan sebagian yang lain mukanya jelek, mereka itu adalah orang-orang yang mencampuradukan antara amalan shalih dan amalan buruk, maka Allah mengampuni kejelekan mereka.
Maraji’: Riyadhush Shalihin
_______________
Catatan kaki:
[1] Dalam hadits riwayat Bukhari lainnya, dikisahkan bahwa kedua tamu Rasulullah itu mengatakan kepada Rasulullah, “Kamu masih memiliki sisa umur yang belum kamu jalani, jika kau telah melaluinya maka kau akan masuk rumahmu.” (HR. Bukhari)

http://4antum.files.wordpress.com/2010/02/rasulullah-saw.jpg


Kisah Rasulullah SAW- sebagai Suami dan Rasul

Kisah Rasulullah SAW sebagai pengajaran

1) Kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menampalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga mahupun untuk dijual.

2) Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyinsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur. Sayidatina
‘Aisyah menceritakan ‘Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga.

3) Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai sembahyang.’



4) Pernah baginda pulang pada waktu pagi.Tentulah baginda teramat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada kerana Sayidatina ‘Aisyah
belum ke pasar.

Maka Nabi bertanya, ‘Belum ada sarapan ya Khumaira?’ (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina ‘Aisyah yang bererti ‘Wahai yang kemerah-merahan’)
Aisyah menjawab dengan agak serba salah, ‘Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.’
Rasulullah lantas berkata, ‘Jika begitu aku puasa saja hari ini.’ tanpa sedikit tergambar rasa kesal di raut wajah baginda.

5) Sebaliknya baginda sangat marah tatkala melihat seorang suami sedang memukul isterinya. Rasulullah menegur, ‘Mengapa engkau memukul isterimu?’

Lantas soalan itu dijawab dengan agak gementar,’Isteriku sangat keraskepala! Sudah diberi nasihat dia tetap degil juga, jadi aku pukul lah dia.’
‘Aku tidak bertanyakan alasanmu,’ sahut Nabi s. a. w.
‘Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu kepada anak-anakmu?’

6) Pernah baginda bersabda, ‘sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik,kasih
dan lemah lembut terhadap isterinya.’ Prihatin,sabar dan tawadhuknya baginda dalam menjadi ketua keluarga langsung tidak sedikitpun menjejaskan kedudukannya sebagai pemimpin umat.

7) Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat.Dilihat oleh para sahabat,pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali.

Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain. Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu
langsung bertanya setelah selesai bersembahyang,

‘Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?’
‘Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sihat dan segar.’
‘Ya Rasulullah…mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergeselan di tubuh tuan?

Kami yakin engkau sedang sakit…’ desak Umar penuh cemas.
Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat untuk menahan rasa lapar baginda.
Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.
‘Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan kami tidak akan mendapatkannya buat tuan?’

Lalu baginda menjawab dengan lembut, ‘Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin,menjadi beban kepada umatnya?’ ‘Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan didunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.’

8)Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpunmakan di sebelah seorang tua yang dipenuhi kudis, miskin dan kotor.

9) Hanya diam dan bersabar bila kain rida’nya direntap dengan kasar oleh seorang Arab Badwi hingga berbekas merah di lehernya. Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencingi si Badwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.

10) Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH swtdan rasa kehambaan yang sudah sebati dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ke tuanan.

11) Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH langsung tidak dijadikan sebab untuknya merasa lebih dari yang lain, ketika di depan ramai mahupun dalam keseorangan.

12) Pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih lagi berdiri di waktu-waktu sepi malam hari,terus-menerus beribadah hinggakan pernah baginda terjatuh lantaran kakinya
sudah bengkak-bengkak.

13) Fizikalnya sudah tidak mampu menanggung kemahuan jiwanya yang tinggi.Bila ditanya oleh Sayidatina ‘Aisyah, ‘Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih
bersusah payah begini?’

Jawab baginda dengan lunak, ‘Ya ‘Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.’
Rasulullah s. a. w. bersabda,’SAMPAIKANLAH PESANKU WALAUPUN SEPOTONG AYAT..’

*taken from Tong Berisi*

Rabu, 08 Desember 2010

pisang bakar keju



gara2 homelone nih... ujan pula makin kesepian dech....
pas buka kulkas ada pisang gepok cm 3 biji, ya udah bikin pisang bakar aja aaahh.....

Bahan :
Pisang gepok
keju cheddar
Susu kental manis (aku pake yang putih, coklat lebih enak)
Margarin

Cara :
Panaskan margarin di atas wajan anti lengket lalu masukkan pisang gepok yang sudah di kupas, bolak balik hingga kecoklatan, angkat taruh di piring, beri susu kental manis diatasnya kemudian taburi dengan keju parut. siap dihidangkan.

Sabtu, 04 Desember 2010

Still loving you....

entahlah....akhir-akhir ini aku sering teringat dirimu, sudah kucoba sekuat tenagaku untuk acuhkan. aku alihkan perhatian, pikiran, ingatan ke hal2 yang lain tetap saja di tiap kedipan mataku ada dirimu. ku coba menghilangkannya dengan membaca buku, itu makin membuat aku teringat, aku alihkan dengan hangout bersama temen2, dirimu seakan mengikuti kemanapun aku pergi. aku coba membaca kitab paling dasyat Al Quran. semakin deras air mataku. karena aku tahu aku tidak ikhlas membacanya hanya karena Allah.
mungkin saat ini dirimu sudah menemukan seseorang, yah...seseorang yang sesuai denganmu, dengan keluargamu, pasti dia jauh jauh jauh lebih cantik, lebih sempurnah fisiknya, lebih cerdas, lebih santun, lebih sholikhah. aku terus berharap dan selalu berdoa untukmu, untukmu disana. semoga Allah menjagamu, menjaga keluargamu, memberikan yang terbaik untukmu dan keluargamu. aku sudah menyayangi kalian, meskipun baru sekali aku mengenal bagian dari kalian.
aku sudah memutuskan, aku tidak lagi mau berusaha melupakanmu. semakin aku mencoba keras, semakin menyiksa dan semakin aku teringat. kini aku akan menikmati tiap detik episode ini. biarlah...biarlah..jika memang pada akhirnya aku akan seperti ini sampai akhir waktuku. semoga Allah memberikanku kekuatan aku menjalani. bukankah hidup di dunia tidak akan selamanya? akan berapa tahun lagi, 10 tahun? 17 tahun? 25 tahun? yang pasti tak akan selamanya.

If We'd Go Again All The Way From The Start
I Would Try To Change Things That Killed Our Love
Your Pride Has Built The Wall So Strong That I Can't Get Through!
Is There Really No Chance To Start Once Again


(scorpion, from the bottom of my heart)

I'm still loving you.....
still loving you

Senin, 29 November 2010

JJ Gilmour : ME and YOU



Me and You.

The thought of it.
So clear to me
Remembering and honesty
Do you recall a better life
televised your photograph.

There is mirror ball for you tonight
A crowd arrives so put out the lights
Leads us all you know you can
i hope you know we understand

I don't need medication to feel the way i wanted to.
if only my generation could stick together
like me and u super glue

if everyone could see you now the funny side
you’ve seen in life
cause they would write it down in side their heads
do the best to recollect.

I don’t need medication to feel the way i wanted to.
if only my generation could stick together
like me and u super glue


The things to do if you looking for love don't count me out
You see i don't want to be left out.
If you are looking for love don't count me out.

I don’t need medication to feel the way i wanted to.
if only my generation could stick together like me and u

No no no

I dont need mediciantion to feel the way i wanted to.
if only my generation could stick together
like me and u super glue
me and u the things we do apart


this is my favourite song
sring banget request ni lagu di hard rock surabaya, ampe penyiarnya hafal tiap kali saya mo request. dan gara2 ni lagu jadi kenalan sama para kru hard rock. hemmmmm...seru aja

Rabu, 24 November 2010

KROKET KENTANG KEJU



KROKET KENTANG KEJU

Bahan :
Kentang

Bahan isi :
Daging ayam cincang
Wortel potong dadu kecil - kecil
Susu cair
1 sdm Tepung maizena
Bawang putih
Merica
Garam
Gula

Pelengkap :
Tepung panir
Putih telur

Cara buat adonan :
Kukus kentang, setelah matang haluskan, kemudian masukkan keju parut, aduk hingga rata.

Isi:
Tumis bawang putih masukkan daging ayam, wortel, merica, garam dan gula. Biarkan sampai harum lalu masukkan susu cair dan tepung maizena aduk hingga mengental dan matang.

Ambil adonan kentang bulatkan lalu buat cekungan ambil isi secukupnya kemudian tutup dengan cara membulatkan, lalu bentuk melonjong.
Celupkan ke dalam putih telur, gulingkan ke dalam tepung panir. Lalu goreng hingga kecoklatan.

Senin, 22 November 2010

SATE


Kata mr. obama sate enak….artinya lidah pak obama masih sehat tuh.
Sate juga favourit saya, sama ama pak obama, mungkin banyak masyarakat indonesia yg gak bakalan nolak klo di suguhi makanan yang satu ini. Ada bermacam2 jenis sate, ada sate madura, sate padang, sate makasar, sate jawa tengah yang tentunya rasanya juga beda2 banget. Di jawa timur aja punya tiga macam sate, sate klopo, artinya satenya di bungkus parutan klopo. Sate ayam, tentulah bahannya dari ayam, sate kambing yo mesti bahane kambing rek…..naaaah…yang membedakan sate jawa timur dengan sate jawa tengah juga dengan sate padang adalah di bumbu. Klo sate jawa timur, bumbu saos pake kacang yang di haluskan, beda dengan sate jawa tengah yang Cuma make kecap dan cabe aja. Tapi apapun bumbunya, dari mana asalnya yang namanya sate tetep jadi favourite saya.
Pernah saya ke suatu kota, bernama blora yang brada di perbatasan jawa tengah dan jawa timur. Kota ini belum pernah saya kunjungi sebelumnya, ke rumah seorang teman yang waktu itu tentu sangat pesial buat saya hehehehe…., di suguhi makan dengan menu sate, ternyata gak kalah enak dengan sate surabaya, bumbunya persis dengan bumbu sate solo, kecap manis dan irisan cabai lalu ada bebrapa sayuran segar yaitu daun kubis dan tomat. Berhubung saya suka banget sayuran, saya ambilin tuh sayuran2nya, untung si tuan rumah baik banget jadi dengan senang hati mempersilahkan saya untuk makan tuh sayuran beserta satenya .
Idhul adha kemarin seperti biasa saya nyate, tp kali ini beda dengan tahun2 sebelumnya. Bedanya, bapak gak mo bikinin buat saya hiks…hiks..hiks…kata bapak sih karena saya sdh dewasa gitu, jd kudu bisa bikin sate sendiri. Kata bapak lagi biar ntar biar bisa bikinin buat suami dan anak2 saya. Nah….inilah sate surabaya bikinanku :

Sate Kambing Surabaya

Bahan:
Daging kambing

Bumbu oles:
Kecap manis
Jeruk limau/nipis
Mentega
Bawang putih

Bumbu saos:
Kacang tanah goreng
Petis 1 sdm
Kecap manis
Cabai rawit
Bawang putih goreng
Bawang merah mentah iris tipis (aku gak pake, coz gak suka)

Cara :
Cincang bawang putih lalu masukkan kecap, mentega dan perasan jeruk limau/nipis aduk2 hingga tercampur rata
Daging kambing di potong2 dadu kemudian tusuk2 dg tusukan sate yg sudah di siapkan
Olesi daging kambing yang sudah di tusuk dengan bumbu oles lalu bakar hingga matang

Bikin bumbu saos :
Haluskan kacang tanah goreng, bawang putih goreng, cabe rawit dan petis setelah halus masukkan kecap manis aduk rata lalu taburi dengan bawang merah mentah iris kemudian siramkan bumbu saos diatas sate yang sudah di bakar matang. Siap di hidangkan

* tips: agar daging kambing tidak bau prengus ato bau kambing, sebelum di masak daging kambing jangan di cuci dulu karena akan semakin bau prengus. Rendam daging kambing dengan air perasan jeruk limau/nipis selama 15 menit atau langsung rebus kambing sampai mengeluarkan busa lalu buang busanya.