Senin, 24 Oktober 2011

MENGAPA SINGLE???

Sering Anda yang masih lajang merasa bosan sekaligus sebal saat ditanya, “Mana nih gandengannya?”, “Apa kamu nggak bosan sendirian?”, “Kapan menikah?”, “Jangan terlalu santai, ingat kamu sudah umur berapa, kamu sadar nggak?” Mungkin Anda ingin sekali berteriak, “So what gitu loh?!!” Mulai dari teman-teman Anda, orang tua, saudara, seakan-akan tidak pernah puas “meneror” Anda dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama. Acara berkumpul dengan keluarga besar atau reuni sekolah yang seharusnya menyenangkan menjadi satu ajang yang kadang membuat Anda terombang-ambing, atau bahkan menjadi satu kegiatan yang paling Anda hindari.
Mungkin Anda menjadi kesal dan berpikir sebenarnya ini hidup Anda atau hidup mereka? Kalau seandainya Anda menikah cepatpun dan nanti terjadi kekacauan dalam rumah tangga Anda, apakah mereka mau bertanggungjawab untuk itu? Selain itu, Anda masih punya hal-hal lain yang lebih penting untuk dikejar. Status lajang berarti kebebasan, tanggung jawab Anda pun hanya terbatas pada diri sendiri.
Tapi tidak jarang Anda juga mungkin berpikir, “Aku nggak jelek-jelek amat, kenapa nggak ada yang tertarik?”, “Apa ada yang salah denganku?”, “Mungkin aku harus menurunkan standarku tentang calon pasangan…”, “Kenapa aku tetap sendirian sementara teman-temanku sudah menikah dan bahkan ada yang sudah punya anak?”, “Single sebenarnya enak juga, tapi kadang aku kesepian…”. Ada juga sebagian yang tidak mau mengakui kalau mereka pernah berpikir seperti itu. Tapi tidak ada yang salah dengan mengakuinya, karena dengan berterus terang, Anda dapat mencari penyebab pikiran-pikiran itu dan menemukan jawabannya. Bukan begitu?
Apakah Anda ditakdirkan untuk menjadi lajang selamanya?
Budaya dan tradisi yang ada di masyarakat ikut menentukan persepsi Anda tentang seperti apa kehidupan yang “utuh” itu. Persepsi ideal yang umum menggambarkan seorang pria dan wanita yang menikah dan membentuk sebuah keluarga. Lantas bagaimana dengan Anda yang masih belum hidup “utuh”? Apakah Anda memang ditakdirkan untuk tetap single?
Kadang Anda jadi bermimpi dan terlalu berfokus pada diri sendiri. Anda terus bertanya-tanya pada Tuhan tentang keadaan Anda. Padahal seluruh kehidupan ini tidak hanya berfokus pada diri Anda, ada banyak sisi-sisi kehidupan yang mungkin terluput dari pandangan Anda selama ini. Saat Anda memutuskan untuk menyambut, mensyukuri dan menikmatinya, Anda akan mengetahui sendiri jawabannya selagi Anda berjalan.
Kriteria pasangan hidup dan pernikahan
Jujur saja, Anda mungkin memiliki kriteria tentang pasangan ideal yang akan hidup “happily ever after” bersama dengan Anda, juga kriteria tentang kehidupan pernikahan yang ideal. Masalahnya, apakah Anda yakin akan “kekuasaan” Anda untuk “menciptakan” sosok pasangan ideal dan pernikahan ideal itu? Dan bagaimana Anda tahu apakah standar dan harapan Anda itu memang yang sepantasnya atau terlalu tinggi atau terlalu rendah?
Kalau Anda membayangkan bahwa suatu saat nanti seseorang akan datang dan mewujudkan semua harapan Anda, itu tidak adil. Bagaimanapun juga, pernikahan menyatukan dua manusia, keberhasilan pernikahan pun juga ditentukan dan dibangun oleh Anda dan pasangan Anda, dengan Tuhan sebagai dasarnya. Jangan hanya menuntut pasangan yang tepat, tetapi jadilah seorang pasangan yang tepat!
Aku bahagia kok dengan status lajangku!
Penyangkalan terhadap kenyataan bahwa kadang Anda merasa kesepian, kadang Anda juga ingin punya pasangan, dan lain-lain, sadar atau tidak justru membuat Anda membangun tembok, bersikap menutup diri dan menunjukkan bahasa tubuh atau sinyal kalau Anda bisa melakukan semuanya sendiri dan tidak membutuhkan seorang pasangan dalam hidup Anda.
Walaupun mungkin Anda bereaksi seperti ini saat orang lain mempertanyakan status Anda karena gerah dengan pertanyaan mereka, bersikap jujurlah, dan Anda pun akan merasa lebih santai menghadapi mereka. Kalau Anda berlagak seperti “lone ranger” yang mampu mengatasi semuanya, bisa jadi sikap Anda justru akan membuat orang yang tertarik pada Anda jadi mundur teratur.
Lalu bagaimana Anda harus bersikap? Tentu saja Anda tidak mau terlihat terlalu berharap, terlalu agresif atau terlalu defensif. Semuanya dimulai dari kejujuran Anda kepada diri sendiri, karena apa yang terjadi di dalam diri Anda, itulah yang akan terlihat dari luar. 

Jadilah diri sendiri dan nikmati hidup Anda
Sudah sewajarnya Anda memiliki kehidupan yang utuh sebelum seseorang memasuki kehidupan Anda. Dan kalaupun Anda memang akan melajang seumur hidup, itu bukan berarti kehidupan Anda tidak pernah utuh.
Banyak wanita yang telah menggantungkan kebahagiaannya pada seorang pria yang akan datang dalam kehidupan mereka, dan mereka berpikir mereka tidak akan pernah bahagia sebelum pria itu datang. Mereka menunda membuat keputusan-keputusan penting dalam hidup mereka karena menunggu datangnya sang pangeran. Dan saat yang dinanti tak kunjung tiba, mereka tenggelam dalam pikiran-pikiran dan emosi-emosi yang tidak sehat. Mengapa harus menunggu seseorang atau sesuatu untuk berbahagia?
Saat Anda mulai berhenti bertanya tentang pasangan hidup kepada Tuhan dan mulai bertanya tentang apa tujuan Anda diciptakan serta apa yang seharusnya Anda lakukan, Anda akan melihat dan menemukan bahwa karunia-karunia dan keunikan Anda memang punya maksud yang spesifik. Saat itulah Anda akan berbahagia. Karena kebahagiaan Anda tidak bergantung pada ada atau tidaknya seorang pria atau wanita yang spesial. Jika Anda sudah merasakan kepenuhan hidup yang sejati, saat seorang pria atau wanita memasuki kehidupan Anda, Anda akan tahu apakah dia adalah orang yang tepat untuk bersama dengan Anda atau tidak.
Sedikit tips, kalau Anda ditanyai tentang ‘kesendirian’ Anda lagi, akui saja kalau memang belum ada perkembangan di area itu, tapi ceritakan tentang perkembangan
di bidang yang lain, misalnya pekerjaan atau kegiatan baru Anda. Dengan ini, Anda tidak hanya memunculkan topik baru untuk didiskusikan, tapi juga akan mengurangi sikap defensif Anda.
Sumber ; Jawaban.Com

Selasa, 01 Februari 2011

SERABI ISI SAYUR


Bahan Serabi
  • Tepung beras 100 gr
  • Tepung terigu 50 gr
  • Santan 300 ml
  • Gula pasir 1 sdm
  • Garam 1/2 sdm
Cara :
  1. Ayak tepung beras & tepung terigu
  2. campurkan tepung beras bersama santan aduk hingga merata, diamkan selama kurang lebih 30 menit kemudian tambahkan sisa bahan lainnya.
  3. Panaskan cetakan serabi (aku pakai cetakan kue lumpur), tuang adonan masak hingga kering lalu angkat.
  4. Olesi permukaan atas serabi dengan saos sambal ato saos tomat jika tidak suka pedas kemudian taburi dengan isinya (sayuran yg sudah di tumis terlebih dahulu)
Bahan isi :
  • Wortel potong adu kecil-kecil
  • kentang potong dadu kecil-kecil
  • sosis potong dadu kecil-kecil
  • minyak untu menumis
Bumbu :
  • Saos tiram
  • Kecap manis
  • Saos sambal
  • bawang putih cincang
  • bawang bombay iris
  • merica bubuk
  • garam
  • gula
cara :
Tumis bawang putih dan bawang bombay hingga harum, masukkan wortel, kentang dan sosis aduk hingga setengah matang lalu masukkan merica bubuk, saos tiram, saos sambal dan kecap manis, garam dan gula tumis hingga matang.

Rabu, 12 Januari 2011

Mengatasi kulit kering dan kusam


Kulit kering dan kusam tidak boleh dibiarkan begitu saja. Itu karena, kondisinya bisa jadi lebih parah, seperti memicu iritasi dan pengelupasan serta membuat keriput lebih cepat muncul.

Untuk mengatasinya, Anda tak perlu pergi ke pusat perawatan kulit yang mahal, cukup dengan membuat masker sendiri.

Daisy Tang, pendiri Aspara Aromatics, menyarankan untuk mengolah buah pepaya menjadi masker untuk kulit wajah. Pepaya mengandung enzim yang fungsinya mirip dengan asam alfa hidroksi yang bisa membantu untuk meminimalkan keriput dan membuat wajah terlihat lebih cerah dan lembab.

Zat asam dan enzim pelarut protein dalam pepaya pun bisa mengangkat sel kulit mati dan mencerahkan kulit. Berikut bahan dan cara membuat masker pepaya, seperti dikutip dari www.totalbeauty.com.

Bahan:
3 sendok makan buah pepaya yang telah diblender
1/3 gelap gandum
1 sendok makan madu

Campur semua bahan dalam wadah, kemudian aduk hingga rata. Pastikan buah pepaya telah bertekstur halus. Setelah rata, tempelkan masker pepaya di wajah dan diamkan selama 10 menit. Lalu, bersihkan dengan air hangat. Usahakan untuk menggunakan maker pepaya minimal satu minggu sekali. Selamat mencoba! (pet)

taken from VIVAnews

Selasa, 11 Januari 2011

Walau Sekejap



 Walau sekejap
Ari Wibowo

Sribu Kota telah kulalui Sribu hati kuselami
Namun tiada pernah kutemui dirimu disana
Bertahun sudah kumencari bertahun dalam dendam rindu

Tlah kucoba menghapuskan Namamu dari hatiku
Tapi siapa dapat mengingkari
Perasaan sendiri

Andai kini, kau telah bahagia
Kurela …kurela
Hanya satu ijinkan diriku
Berjumpa denganmu
Walupun hanyalah sekejap
Sekedar pengobat rinduku

Tlah kucoba menghapuskan Namamu dari hatiku
Tapi siapa dapat mengingkari
Perasaan sendiri

Andai kini kau telah bahagia
Kurela …kurela
Hanya satu ijinkan diriku Berjumpa denganmu
Walupun hanyalah sekejap
Sekedar pengobat rinduku



Sewu Kuto
Didi kempot

Sekedar pengobat rinduku
Sewo kuto uwis tak liwati
Sewu ati tak takoni
Nanging kabeh
Podo rangerteni
Lungamu neng endi
Pirang tahun aku nggoleki
Seprene durung biso nemoni

Wis tak coba
Nglaliake jenengmu
Soko atiku
Sak tenane aku ora ngapusi
Isih tresno sliramu

Umpamane kowe uwis mulyo
Lilo aku lilo
Yo mung siji dadi panyuwunku
Aku pengin ketemu
Senajan sak kedeping moto
Kanggo tombo kangen jroning dodo

Wis tak coba
Nglaliake jenengmu
Soko atiku
Sak tenane aku ora ngapusi
Isih tresno sliramu

Umpamane kowe uwis mulyo
Lilo aku lilo
Yo mung siji dadi panyuwunku
Aku pengin ketemu
Senajan wektumu mung sedhela
Tak nggo tombo kangen jroning dodo

Senajan sak kedeping moto
Tak nggo tombo kangen jroning dodo

sebenernya denger nich lagu udah lama banget secara memang tuch lagu juga udah lama rilisnya. tapi baru 2 hari kemaren saya bener2 pengen denger dan setelah saya resapi (duch...sok sokan dech) nih lagu bikin hati saya gimanaaaaaaaaaaa gitcu....
saya jadi teringat seseorang disana, seseorang yang pernah mengisi hati saya....
kira2 kayak lagu diatas, saya belum bisa lupa dengan perasaan saya terhadapnya....wehehehehe....preeettt....
baiklah...cekidot...

Selasa, 28 Desember 2010

ISTIKHARA CINTA



Dani mengenal faizah sejak kecil. Gadis putih berkacamata itu adalah tetangganya sewaktu sang ayah berdinas di Aceh. Sebagai tetangga, hubungan orangtua dani dan faizah pun cukup baik. Tetangga yang baik lebih dekat daripada saudara kandung, mungkin ungkapan itu benar adanya.

Dani yang lebih tua 3 tahun pun sudah seperti kakak bagi faizah. Orangtua faizah percaya, dani dapat menemani faizah bermain. Si kecil itu memang tidak banyak teman, karena kondisi tubuh yang lemah dan sering sakit. Ibu dani, bu wiryo, sangat senang, karena gadis cilik itu sering main ke rumahnya. Seperti punya putri sendiri, katanya yang tak punya anak perempuan.

Setelah masa dinas sang ayah berakhir, dani kembali ke jawa tengah, bersekolah di sana dan melanjutkan kuliah di yogyakarta. Tak disangka, 3 tahun berselang, di tahun 2001, faizah ternyata melanjutkan kuliah di kota yang sama. Dia mencari kakaknya, dani, sebagai tempat bertanya. Alangkah senangnya orangtua faizah mengetahui dani bersekolah di kota yg sama. Rasa khawatir mereka akan lemahnya tubuh faizah agak terobati.

Faizah bukan gadis manja lagi. Ia juga sudah punya banyak teman di kampus. Dengan fisiknya yang lemah, ia tetap berjuang melakukan semuanya sendiri.

Dani mulai mengagumi faizah, bukan sebagai adik, namun sebagai perempuan yang pantas di jadikan pendamping hidup. Kuliahnya sebentar lagi selesai. Ia pun sudah mendapatkan pekerjaan sejak tahun ketiga kuliah.

Gayung bersambut. Faizah tidak keberatan berumahtangga sambil bersekolah.

“Ibu tidak setuju, dani”
Kalimat bu wiryo sungguh diluar dugaan dani. Bagaimana mungkin? Ibunya dulu sangat menyayangi faizah bagai putri sendiri. Hubungan dengan keluarga faizah pun tak beda dengan saudara. Bahkan bu wiryo pernah berkata ia mengagumi keluraga faizah yg mencerminkan keislaman, semangat dan kemandirian masyarakat aceh.
“ibu tak ingin kau menikah dengan perempuan yang lemah tubuhnya, nak”. Jawaban yg singkat dan menyakitkan. Apalagi itu keluar dr mulut sang ibu, orang yang paling dekat dihati dani. Tapi bagaimana ia bisa memilih? Hatinya sudah terpikat dengan gadis lembut dan keibuan itu. Namun, tak sampai hati ia menentang kehendak sang bunda yang begitu disayanginya.
“Ibu sayang faizah bagai putri sendiri, tapi ibu tak bs menerimanya sebagai menantu. Ibu tidak ingin seumur hidup kamu kerepotan dengan penyakitnya. Bisakah dia mengurusmu? Bisakah dia melahirkan anak-anakmu nanti? Sedikit-sedikit asmanya kambuh. Cape sedikit dia pingsan. Jantungnya, lambungnya, paru-parunya….menjadi istri bukan tugas yang mudah, ah…ibu tidak tega dengan masa depanmu, nak”. Kalimat itu keluar dari bibir bu wiryo. Dani mendengarnya, namun tatapannya kosong. Pikirannya kosong. Bagaimana ia harus berdiri di antara 2 cinta ini??

“tidak apa-apa, bang. Ibu benar, menjadi istri bukan tugas yg nudah”. Tak disangka, faizah malah tampak tegar menerima kabar dari dani. Ke mana gadis cilik yang cengeng dan manja itu sekarang? Ah, dani makin kagum dibuatnya.

“Beri aku waktu, faiz. Beri aku waktu untuk meyakinkan ibu”. Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut dani. Dani pun kaget dg kata2nya sendiri. Surga di telapak kaki ibu. Semula ia ingin menyerah. Tak mungkin ia menyakiti sang bunda demi seorang gadis yang memikat hatinya. Biarlah cinta mengalah. Tak berani ia menjauhi surga. Tapi, melihat gadis itu begitu tegar dan tawaduk, mungkin faizalah, bidadari surga lainnya.
Faizah tersenyum datar.

“meyakinkan ibu memang butuh waktu. Masalahnya apakah abang sendiri yakin dengan keputusan abang?”. Faizah mengenal dani sejak lama. Ia sudah tahu betapa cintanya dani pada sang bunda, betapa lembut hatinya. Bu wiryo adalah nafas bagi dani, kebahagiaannya, cintanya. Tak mungkin faizah merenggut cinta itu dr dani.
Dani terdiam.

Keyakinan? Ya, bagaimana dani bisa meyakinkan sang bunda sedangkan keyakinan itu tdk ada dlm dirinya sendiri? Kebingungan, kesedihan akan 2 cinta membawanya pada Sang Pemilik cinta. Dunia masih tertidur berselimut malam, saat dani membasuh kedua tangannya dengan wudhu. Dalam sunyi dani berdialog dengan Sang Pemilik, tempat kembali, dimana segala cinta bermuara.

Sekali, dua kali, dani berdialog dengan Sang Pemilik cinta. Membiarkan dirinya larut dalam doa dan pinta. Sehari, dua hari, seminggu, kadang wajah faizah muncul dalam lamunannya, begitu kuat, lalu pudar menyamar saat suara sang bunda menghentakkan khayalnya. Kebingungan masih menguasai. Dani sadar, dia bukan wali apalagi nabi. Tak berani ia mengartikan mimpi atau suara hati sebagai jawaban. Sadar bahwa setan masih bisa membisiki dari kanan dan kiri. Mengapa wajah faizah terus menguat? Atau, itu godaan setan agar ia membangkang? Ataukah itu sebuah jawaban? Ah, pusing dia!!

Dani menarik napas. Dia melangkah memasuki halaman kost faizah. Memencet belnya.
“faiz, aku belum menemukan jawaban untuk masa depan kita. Yang kutahu, hatiku mengatakan untuk tetap memperjuangkanmu. Biarlah, kamu kupertemukan lagi dengan ibu sebagai sobat lamaku, putrinya di aceh dulu. Itu kalau kau tidak keberatan”. Dani tak berani menatap wajah faiz saat berkata, ia merasa menjadi seorang pria yang plin plan.

“abang, bukankah aku juga putrinya sejak dulu? Aku juga kangen ingin silaturrahmi dengan ibu. Sesekali aku akan main ke semarang untuk menjenguk ibu”. Tanggapan faiz melegakan dani. Dia belum tahu jawaban atas istikharanya. Dia juga tak berani memberikan janji. Yang dia bisa hanyalah mempertemukan faiz dengan ibunya lagi. Dan membiarkan bundanya mengenali gadis berhati kuat itu lagi, bukan sebagai gadis lemah yang sakit-sakitan. Ya, dia akan berjuang untuk 2 cinta ini.

Tahun 2004, faizah menyelesaikan pendidikan diplomanya di yogyakarta. Sekembalinya ke aceh, dani melamar faiz di rumahnya. Bu wiryo akhirnya mengalah, mengijinkan dani menikahi gadis pilihannya. Meski setengah khawatir, bu wiryo luluh dengan kesungguhan dani. Upacara pernikahan mereka dilangsungkan awal januari 2005, setelah faizah sekeluarga dipastikan selamat dari badai tsunami.

Tahun 2005, beberapa bulan setelah pernikahan, bu wiryo terserang stroke. Saat itu, faizah menantu satu satunyalah yg merawat. Setiap kali ada teman yang menjenguk, bu wiryo selalu membangga-banggakan faizah yang setia merawat. Faizah, faizah dan faizah….betapa sayangnya ia pada faizah. Betapa beruntungnya ia bermenantukan anak yang berbakti. Betapa lezatnya masakan faizah. Lemahnya tubuh pun tak jadi penghalang bagi faizah untuk menjaga mertuanya, bergantian dengan dani dan ayahnya.

Malam itu dani baru pulang dari kantor. Dibukanya pintu kamar sang bunda. Faizah tertidur bersama bu wiryo. Dani menatap 2 perempuan yang begitu dicintainya. Teringat malam-malam penuh doa. Malam dimana ia bersujud tenggelam dalam istikharah, mencari jawaban pada Sang Pencipta. Bertanya-tanya kapan doanya akan terjawab. Bergulat dalam keraguan, ketidakpastian.

Saat itu, tidak ada tanda ataupun mimpi yang bisa ia tangkap. Hanya keyakinan untuk tidak berhenti berjuang hingga hari pernikahannya tiba. Sekarang dihadapannya bu wiryo tertidur lelap. Disampingnya, faizah tertidur di sofa, kelelahan setelah merawat ibunya. Dua cinta inilah jawaban atas doa doanya.


(Taken From, Istikhara Cinta by M. Shodiq Mustofa dkk)

Senin, 27 Desember 2010

JAMUR KUAH KUKUS


Mushroom atawa jamur dalam bahasa indonesianya mempunyai banyak macam. Dan semua macam jamur saya sangat suka, salah satu makanan favourite saya, asal bukan jamur beracun aja hehehehe….tidak hanya karena enak rasanya tapi manfaat dari jamur juga luar biasa. kata beberapa sumber yang pernah saya baca, jamur bisa mencegah kanker.
Biasanya klo musim penghujan gini, jamur kuncup dan jamur bulan banyak tumbuh di belakang rumah saya. jadinya tiap pagi Ibu hunting jamur-jamur kesukaan saya itu. Kadang ampe dulu-duluan ama sepupu sebelah rumah. Nah…ini dia jamur kesukaan saya, masaknya cukup sederhana saja, tapi rasa waow….gak ada duanya. Blm pernah saya nemuin di daerah lain.

Bahan :
Jamur bulan/kuncup

Bumbu halus :
Bawang merah
Bawang putih
Terasi
Cabe rawit
Garam
Gula

Cara :
Cuci bersih jamur kemudian suwir-suwir. Campurkan bumbu dan jamur lalu bungkus dengan daun pisang, kasih sedikit air sebagai kuah. Lalu kukus selama 15-20 menit.

catatan : Jamur kuncup dan jamur bulan tidak bisa bertahan lama, jadi harus segera di panen dan langsung di masak, jika dibiarkan beberapa jam saja akan mengeluarkan belatung. tapi jika tidak sempat langsung memasaknya rendam di dalam air matang kemudian masukkan kulkas.

Minggu, 26 Desember 2010

SECUIL KISAH MASA LALU



mai, tolong yach…pinta Ida sambil terisak. Iya…pasti, tenang saja serahkan semua sama temenmu ini, hiburku.
Sungguh aku benar-benar tidak tega dan selalu tidak tega mendengar Ida menangis. Permintaan yang hampir sama setiap kali Ida minta tolong padaku. Kadang aku merasa keberatan harus menyelesaikan tiap masalah yang tidak ada hubungannya denganku apalagi masalah dengan lawan jenis. Tapi demi karibku yang satu ini apapun aku lakukan sebisaku asal Ida tidak menangis lagi. Ida temanku sejak kami sama-sama duduk dibangku SMU. Kami sekolah di sebuah sekolah dengan sistem asrama maka hampir tiap saat aku bisa bertemu Ida. Walaupun dulu aku tidak terlalu dekat dengannya tapi entahlah sejak kami lulus SMU, Idalah yang sering menghubungiku. Saling bertanya kabar, tiap punya masalah akulah orang pertama yang Ida cari. Dengan senang hati aku mendengar apa saja keluhannya. Karena rumah kami masih satu propinsi, tidak perlu mengeluarkan biaya terlalu banyak untuk saling telepon. Mungkin itulah alasan kenapa kami makin dekat setelah lulus SMU. Orang tua Ida sering melarang Ida keluar rumah, maka tak segan akulah yang datang kerumah Ida jika dia memintaku. Aku tidak pernah rela siapapun menyakitinya, pernah suatu kali aku melabrak seorang cowok cuma gara-gara Ida merasa dipermainkan, padahal sesungguhnya aku tahu, cowok itu hanya menganggap Ida teman biasa. Tapi aku tidak perduli, bagiku aku hanya ingin membuat Ida baik-baik saja. Ida selalu bilang padaku “kamu berani ya mai”. ah…tidak Ida, sebenarnya saat aku melabrak cowok itu atau tiap kamu memintaku untuk membantumu, aku harus mengumpulkan seluruh keberanianku. Kadang aku juga sangat ingin menjadi tidak sekuat yang kamu lihat.
Kembali lagunya creed berjudul one last breath berbunyi dari ponselku. Aku suka sekali lagu itu, kujadikan lagu itu sebagai nada panggil di ponsel kesayanganku karena petikan gitarnya yang menurutku easy listening meskipun lagu bergender rock. Kulihat layar kecil di ponselku, ada nama Ardi disana. Huh…dia lagi, sungutku sedikit kesal walau dalam hatiku merasa ada sebuah kemenangan, telah membuat cowok itu penasaran. Sudah jam sebelas malam lewat masih saja dia belum tidur. Cowok itu benar-benar penasaran kelihatannya. Berkali-kali teleponnya tak kujawab, smsnya juga aku abaikan. Sebenarnya aku malas berhubungan dengan cowok itu, klo bukan karena sahabatku aku tak akan rela buang-buang waktu untuk cowok yang tidak aku kenal. Keesokan hari setelah sholat subuh kucoba menghubunginya, sekalian membangunkan untuk sholat subuh yach…hitung-hitung cari pahala pikirku. Halo…terdengar suara serak diseberang menjawab panggilan teleponku setelah 3 kali bunyi nada sambung. Ardi udah sholat subuh belum? Tanpa salam terlebih dulu, aku bertanya. Hemmm….Nana yach? Kenapa semalam gak balas smsku? Tanya Ardi selanjutnya. Maaf aku sudah tidur. Sholat subuh dulu gih!! ntar aku telepon lagi. Lalu buru-buru kututup teleponku. Selang kurang lebih sepuluh menit, nada panggil dari ponselku berbunyi, ternyata Ardi. Dengan senyum mengembang aku menjawab teleponnya. Selanjutnya kami terlibat percakapan seru seperti pagi-pagi sebelumnya. Sudah seminggu ini Ardi rajin meneleponku, sms tiap saat. Sebenarnya aku merasa berdosa karena aku berbohong padanya. Aku sudah berjanji tidak akan membocorkan rahasia ini.
Mai gimana?, tadi ardi telpon kamu nggak? Ngomong apa aja dia? Pasti dia bohong lagi ya? Pertanyaan Ida memburuku untuk cepat-cepat menjawab. Kujawab semua pertanyaan Ida, aku ceritakan semua yang aku bicarakan sama Ardi. Tiap ba’da maghrib Ida melepon, memintaku bercerita apasaja yang telah aku bicarakan dengan Ardi lewat telepon seharian ini. Jujur saja Aku senang bercakap-cakap dengan Ardi meskipun hanya lewat telepon. Kami saling cerita apasaja, keluarga, teman, pekerjaan, masa lalu, semuanya. Kupikir asyik juga berteman sama cowok itu. Suatu kali dia cerita tentang Ida, deg…jantungku berhenti sejenak, tapi kucoba biasa saja. Na, jangan-jangan kamu temennya si ida ya? Ardi bertanya padaku dengan nada curiga. Enggak…aku gak kenal Ida. Dengan gugup aku menjawab pertanyaan Ardi. Kembali Ardi mengajukan bertubi-tubi pertanyaan kepadaku seperti sedang  mengintrogasi seorang pencuri. Sebisaku, aku menjawab dengan kebohongan. “Maaf Ardi”, bisikku lirih.
Mai, jangan-jangan ntar kamu suka sama ardi, suara Ida begitu khawatir. Mana mungkin da…he is not my type, kataku menenangkan. Walaupun ardi suka bohong dan kekanakan tapi aku suka. Ujarnya kepadaku. Aku tahu da…
Aku mulai terbiasa dengan telepon-telepon Ardi yang tiap hari, bahkan aku selalu menunggunya, atau jika Ardi tidak menelponku, aku yang mencoba menghubunginya. Berkali-kali Ardi memintaku untuk bertemu dengannya, dan berkali-kali pula aku mencari alasan untuk menolak permintaannya. Aku belum siap bertemu dengan orang yang telah aku bohongi. Maafkan aku ardi!!
“Hari sabtu ba’da Sholat Ashar di Masjid Al-Akbar”. Aku berjanji untuk menemuinya. Akhirnya Aku mengabulkan permintaan Ardi. Beberapa menit setelah kutulis sms, janjiku sama Ardi. Lagu creed favouriteku berbunyi, tanpa kulihat nomor siapa yang memanggil, aku jawab panggilan dari ponselku. Assalamualaikum…salamku untuk si penelpon Wa’alaikum salam…ternyata Ida, tanpa menyebut namanya aku tahu itu Ida, aku hafal sekali suaranya. Ada apa da? Tanyaku. Mai, berhentilah berhubungan dengan Ardi. Tiba-tiba Ida berkata dengan nada datar. Maksudmu? Tanyaku bingung. Sudahlah..akhiri semuanya, berhentilah berhubungan dengan ardi, klo dia telpon jangan dijawab, smsnya juga jangan dibalas. Sudah cukup. Kali ini suara ida agak meninggi. Tapi da…belum sempat aku meneruskan kata-kataku, Ida memotong ucapanku. Sudah mai, klo kamu memang mau berhubungan sama Ardi, silahkan tapi jangan sangkut pautkan aku.
Ida cemburu.
Aku sudah berjanji untuk menemui Ardi, dan janji adalah hutang. “Maafkan aku  Ida”.
Setelah pertemuan itu, kukira Ardi akan kecewa denganku. Kukira Ardi akan berhenti menghubungiku karena ternyata aku tidak seperti yang ia harapkan. Dan tugasku selesai. Aku bisa bebas dari kebohonganku, aku bisa bebas dari obsesi Ida. Kemudian aku bisa tenang. Tapi semua perkiraanku meleset.
Gimana Na? Mau ta serius sama aku? Sudah kesekian kalinya Ardi mengajukan pertanyaan yang sama. Entah kenapa aku tidak bisa mengatakan “tidak”, padahal aku tahu pasti sahabatku sangat mencintainya. Tapi di, kita belum terlalu saling mengenal satu sama lain, jawabku. Ya udah kita kenalan, besok aku ke tempatmu. Kalimat Ardi memaksa . aku gak mau pacaran di, kembali aku beralasan. Aku juga gak ngajak kamu pacaran, aku mau kita hubungan serius. Ardi mematahkan alasanku. Baik, besok sore aku tunggu. Ada hal penting yang pengen aku bicarakan. Jawabku singkat. Tanpa salam kami akhiri pembicaraan. Ini kesempatanku untuk berterus terang padanya, aku akan bicara yang sebenarnya, mungkin memang akan melukainya tapi aku tidak ada pilihan lain. Kemudian aku akan bilang juga sama Ida, semoga Ida bisa mengerti.
Jam 16.18 sore Ardi tiba di kosanku. Kursi teras depan kosan yang di tata Ibu kos sama-sama menghadap satu arah, ada meja kotak tak terlalu besar yang memisahkan kedua kursi, membuat kami duduk agak berjauhan dan tidak saling berhadapan. Ini lebih nyaman karena aku tak harus melihat langsung wajah Ardi. Di tengah obrolan kami, berkali-kali aku mencuri pandang wajahnya. Semua kata-kata yang semalam aku susun untuk mengatakan kebohonganku, buyar. Menguap begitu saja. Aku tidak mampu mengatakan apapun mengenai kebohonganku yang kusimpan selama ini. Aku sungguh tak tega, melihat wajah dan sorot matanya yang tulus. Aku benar-benar tak tega. Hingga Ardi berpamitan untuk pulangpun, Aku masih belum mampu mengatakannya. “Maafkan aku Ardi!!” dalam hati.
Semenjak kedatangan Ardi sore itu, Ardi makin sering datang ke kosanku. Aku belum mampu untuk berterus terang.  Aku masih terikat janji sama Ida untuk tidak mengatakan mengenai kebohonganku. Ida sendiri tidak lagi mau menghubungiku. Dan aku juga takut untuk menghubunginya. Kupikir aku akan menunggu beberapa waktu, menunggu amarah Ida reda. “Maafkan aku Ardi !!! maafkan aku Ida!!!!”
Petang itu, kami duduk berdampingan di sofa ruang tamu kosku, hanya ada jarak beberapa senti diantara kami. Jantungku berdegup kencang, darahku seakan mengalir deras, tubuhku panas dingin. duch…baru kali ini aku duduk sangat dekat dengan seorang pria di tempat sepi. Kebetulan semua teman-teman kosku sedang KKN (Kuliah Kerja Nyata). Hanya ada empat orang yang kos di sini. Dan semua tidak ada disini kecuali aku. Ibu kosku ada di rumah depan, walaupun kami satu rumah tapi rumah ini terbagi dua, rumah belakang khusus untuk anak-anak kos dan rumah depan atau rumah inti untuk Ibu kos dan keluarganya. Masih ada banyak kamar kosong sebenarnya, tapi entah kenapa tidak ada yang mau kos disini kecuali kami berempat. Mungkin karena fasilitas yang minim sesuai dengan harganya yang lumayan murah dibandingkan dengan rumah kos lain di sekitar sini. Disini daerah kampus, banyak kamar-kamar yang dikoskan dan rumah kontrakan. Semua teman kosku masih kuliah, Cuma aku satu-satunya anak kos yang sudah bekerja. Terlalu besar rumah ini untuk kutempati sendirian, kadang aku merasa takut sendiri saat waktu malam tiba. Sering aku minta keponakan Ibu kos untuk menemaniku tidur. Nana, boleh aku pegang tanganmu?, ardi mengagetkanku. Oh..emmm…aku gugup. Aku berharap kamu yang terakhir bagiku, mau ta klo aku melamarmu? Ardi menatapku lekat. Kueratkan tanganku dalam genggaman tangannya. Kubalas tatapannya. Kita menjalani semua dengan saling menghargai, Ardi. Hanya itu yang mampu aku ucapkan. “Allah… ampuni hamba!!! Maafkan aku Ida!!”
Kejadian sore itu menyadarkanku bahwa ada perasaan indah dihatiku ketika memikirkan ardi. Kutekadkan untuk harus jujur sama Ardi. Aku ingin kehidupanku selanjutnya tidak ada lagi kebohongan sekecil apapun. Aku harus bicara sama Ida. Kukumpulkan keberanianku untuk menghubungi Ida, Bismillahirrahmanirrahim…dengan tangan gemetar kutekan tuts-tuts nomor yang sudah kuhafal diluar kepala. Setelah kudengar telepon diangkat kuucapkan salam, Assalamualaikum…bisa bicara dengan Rosidah?. Dari siapa ini?, Ini pasti suara Ibunya Ida. Walaupun aku tidak pernah bercakap-cakap lama dengan beliau, tapi aku yakin ini suara Ibunya Ida. Karena hampir tiap kali aku telepon kerumah Ida, Ibunyalah yang sering menjawab teleponku terlebih dahulu sebelum di berikan pada Ida. Mai, bu!! Jawabku. Sebentar ya…Ibu Ida menyuruhku menunggu. Tak lama kemudian suara seseorang yang sangat aku kenal. Halo…siapa ini?. Aku da, mai. Dengan perasaan takut aku menjawab pertanyaan Ida. Ooo..kamu…ada apa? Tanya Ida dengan nada ketus. Da, maafkan aku. ucapku. Maaf untuk apa? Kamu masih berhubungan sama Ardi kan? Kata-kata Ida masih dengan nada ketus. Aku hanya terdiam. Aku tahu mai. Mungkin sekarang kamu sudah jadian sama Ardi. Ya kan? kalimat Ida kembali meluncur, tidak lagi ketus tapi terdengar meninggi. Aku masih terdiam. Untuk beberapa detik kami sama-sama diam. Da, maafkan aku. Kataku kembali, kali ini dengan suara sangat rendah. Tak terasa Air mataku mulai meleleh. Tapi kucoba untuk menahan isakanku agar tak ketahuan oleh Ida. Boleh aku berterus terang sama Ardi?. Terserah…klik Telepon ditutup. Aku masih terdiam menahan tangis di ruang wartel yang sempit dan makin sempit karena dadaku sesak, sesak sekali.
Kubaca sms dilayar ponselku, kata-kata penuh caci maki ditujukan padaku. Ida marah besar. Aku tahu akan begini jadinya. Berkali-kali sms hanya berisi caci maki untukku. Aku memang pantas mendapatkannya. Aku hanya bisa mebalas dengan kata “maaf”. Tidak ada yang bisa aku ucapkan saat ini kecuali, “maafkan aku Ida”. makian Ida tidak hanya berhenti di sms, Ida mengirimiku e-mail dua halaman penuh berisi tumpahan amarahnya. Bukan caci maki yang membuatku bersedih tapi karena Ida tidak mau lagi berteman denganku, dia tidak mau lagi melihatku. Dia memutuskan tali silaturrahim diantara kami. Persahabatan yang telah bertahun-tahun aku jaga, kini hancur sudah. Karena aku yang jahat, karena aku yang berkhianat. Karena kebodohanku. Aku mengerti sangat mengerti.
Ida tidak banyak berubah, teringat ketika dia marah sama salah seorang teman sekelas kami. Hanya karena masalah sepele, dia tidak mau memaafkan sampai kami hampir lulus dari SMU. Ida sangat sulit memaafkan. Apalagi masalah seperti sekarang ini mungkin butuh waktu beberapa tahun Ida akan bisa benar-benar memaafkan aku. Ida tidak lagi mau menerima telepon dariku.
Sudah hampir 3 jam aku menunggu Ardi. Dia berjanji akan datang kekosku malam minggu ini. Aku ingin mengatakan semua kebohonganku. Kucoba tuk menghubunginya tapi tak diangkat teleponku, sms juga tak di balas. Duch…aku mulai khawatir. Jangan-jangan terjadi apa-apa dengannya. Kuhubungi lagi, Alahamdulillah setelah nada sambung kelima akhirnya Ardi menjawab teleponku. Halo…kudengar suara Ardi seperti dalam keramaian. Ardi…kamu dimana? tanyaku khawatir. Apa?aku nggak dengar!! Suara ardi begitu keras. Bising sekali, mungkin ardi di tengah perjalanan. Kamu dimana? Kuulangi pertanyaanku, kali ini dengan suara yang amat keras. Dijalan, mau kerumah teman. Jawabnya. Lho… katanya kamu mau kesini!!! pokoknya aku tunggu kamu sekarang, ucapku kali ini dengan nada kesal. Lalu kututup telepon. Kuhempaskan tubuhku disofa ruang tamu kosku, aku bener-bener kesal. Aku paling tidak suka janji dibatalkan tanpa konfirmasi. Aku benci menunggu sekalipun yang kutunggu adalah orang yang sangat aku sukai. Apalagi aku korbankan waktuku untuk menunggu nenekku yang terbaring sakit di rumah sakit. Aku memilih kembali ke rumah kos hanya untuk bertemu dengan Ardi. Tapi ternyata orang yang kutunggu membatalkan janjinya. Aku sangat kesal. Beberapa menit kemudian aku sms Ardi, memberitahunya untuk tidak datang saja. aku menyesal telah memaksa Ardi untuk datang.
“Aku gak mau lagi serius sama kamu, sekarang kamu bebas cari cowok lagi”. Isi sms Ardi membuatku kaget. Masa cuma gara-gara masalah kemaren Ardi membuat keputusan sepihak begitu saja. Baru kali ini aku menjalin hubungan sangat serius dengan laki-laki. Dan aku sudah sangat yakin bahwa Ardi-lah yang akan menjadi imam dalam hidupku nantinya. Aku sedikit shock membaca sms ardi. Setelah membaca sms dari Ardi, kucoba menghubunginya, aku pengen tahu alasan kenapa dia membuat keputusan sepihak. Tapi kelihatannya Ardi tidak mau mengangkat teleponku. Kucoba kembali menghubunginya, tetap saja Ardi tidak menjawab teleponku. Sampai jari-jariku capek, tetap Ardi tidak mau menerima teleponku. Kuputuskan untuk memberinya waktu beberapa hari, mungkin Ardi sedang marah padaku. Hari kelima aku mencoba menelponnya lagi, tetap saja Ardi tidak mau menerima teleponku. Aku kehabisan kesabaranku, lalu kutelpon dia menggunakan nomor teman kosku. Ternyata Ardi menjawab teleponku, tentu saja karena dia tidak tahu kalau aku yang menghubunginya. Setelah kudengar suara “halo” , tanpa salam lansung saja aku bicara. Ardi, ini aku Nana. Kenapa kamu gak mau nrima teleponku?. Aku tahu semua kebohonganmu!!!. Aku tahu dari Ida. Aku hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan Ardi. Memang Ida bilang apa?tanyaku. Semuanya, sudahlah aku nggak perlu mendengar penjelasanmu. Klo kamu minta maaf, aku sudah memaafkan. Sekarang kamu bebas. Kini mulutku seakan tak mampu berkata apa-apa lagi. “Tapi aku benar-benar mncintaimu dan teman-temanku disini memang memanggilku Nana, aku tidak pernah bohong kecuali mengenai Rosidah!!!”. Kalimatku hanya menggantung dikerongkongan.
Ardi benar-benar ingin menghapusku dari hidupnya. Ingin sekali aku menemuinya dan menjelaskan, agar dia mendengar dari mulutku sendiri, tapi Ardi tidak sedikitpun memberiku ruang untuk mengatakan kebohonganku. Ardi begitu kecewa denganku. Dulu kupikir Ardi akan mengerti dan memaafkan aku, karena dia mencintaiku. Tapi, kini aku mengerti. Ardi tidak benar-benar mencintaiku. Atau mungkin rasa itu dikalahkan oleh luka hatinya? Aku masih tidak mengerti.
Kutulis surat untuk pemuda yang sangat aku kasihi, dengan dada berdebar dan air mata yang bercucuran. Hanya untuk menjelaskan kebohonganku, itu saja. Aku tidak perduli ia percaya atau tidak. Jika memang sudah tidak ada lagi kepercayaan buatku, aku sangat mengerti. Aku telah membohonginya.
Sudah berjam - jam aku duduk di pinggiran pot besar pohon yang sengaja di tanam di areal Masjid termegah di Surabaya. Bukan sedang mengagumi bangunan yang berada tepat di depanku. Tapi sedang mengingat kembali waktu itu. Di bawah pohon inilah, di pinggiran pot besar inilah pertama kali aku bertemu dengan seorang pemuda baik yang mengajarkanku hidup sederhana. Tidak berpura-pura, apa adanya dan lucu. Yang membuat aku selalu bersemangat menjalani hari-hari, meskipun sesibuk dan sesulit apapun hariku. Masih segar ingatanku tentang kejadian setahun yang lalu. Dosa dan kesalahan yang mungkin tak termaafkan. Tapi sungguh aku bersyukur, aku mempunyai Rabb yang Maha Baik dan Maha Pengampun. Setelah kukirim surat itu, kuputuskan untuk meninggalkan kota kelahiranku dan berganti nomor ponsel agar tidak ada siapapun yang bisa menghubungiku selain keluarga dan teman-teman yang tidak ada hubungannya dengan Ardi dan Ida. Aku ingin mencintainya dengan caraku, aku hanya mencintainya, bukan obsesi untuk bersamanya. Bukan nafsu untuk mendapatkannya. Aku ingin mencintai keduanya hanya karena Allah yang Maha mencintai. Kini, setelah setahun berlalu, aku telah siap kembali lagi ke kota ini, walaupun aku belum siap bersilaturrahim dengan kedua orang yang telah aku lukai. Cinta itu masih tertanam di hati.

Buat sahabat baikku dan pemuda sederhana, maafkan aku