Minggu, 26 Desember 2010

AKU INGIN MENJADI ISTRIMU


         Aku ingin menjadi istrimu,” pintaku pelan.
Tapi lelaki, tempat cintaku berlabuh setahun ini, bagai tak mendengar. Ia terjerat hari-hari yang sibuk. Pergi pagi, dan pulang ketika senja tiba. Tak jarang dini hari baru pintu rumahnya terdengar berderit.
Aku tahu, karena hampir tiap malam aku menunggunya. Kesetiaan, yang membuahkan kantung yang menggelap di bawah mataku.
“Kenapa matamu, Mia? Makin hari makin tak bersinar saja. Jangan terlampau sering bergadang”.
Ibu, seperti yang juga lain, tak pernah mengerti alasanku berjaga tiap malam. Tak ada yang memahami apa yang kutunggu. Kecuali Andy, tempat cintaku bersandar. Ia tak pernah sekalipun menyinggung soal mataku yang kian cekung. Mungkin karena lelaki seperti dia mengerti jerih payang orang yang mencintai. Kesetiaan yang mengalahkan penglihatan fisik.
Tidak seperti pasangan-pasangan lain, dalam angan kebanyakan orang, kami memang berbeda. Kesibukan Andy menafkahi keluarganya, membuat lelaki itu harus bekerja ekstra keras. Meskipun begitu, pertemuan kami rutin. Walaupun hanya sebentar sekali.
Di luar waktunya sebagai wartawan, lelaki itu menyempatkan diri menulis cerpen, puisi, resensi, opini, apa saja, untuk banyak media. Komputer, ia belum punya. Itulah mengapa Andy rajin berlama-lama di kantor.
Dan sebagai pasangan setia, aku harus mengerti.
Sosoknya yang pekerja keras, itu yang membuatku makin terpikat. Jatuh hati kian dalam. Lainnya?
“ Mas bisa mengetik di rumah. Kapan saja Mas mau. Tak usah sungkan.”
Minggu sore itu dengan baju kurung yang baru selesai dijahitkan Ibu semalam, kami berbincang sebentar di teras rumah. Tapi tawaranku yang tak sepenuhnya tulus, hanya karena ingin bersamanya lebih sering, ditolaknya halus.
“Jangan, Mia. Mas pulang dari kantor sudah malam. Tak enak sama orang tuamu.”
Kalimat tegasnya menunjukkan kemandirian, dan mental yang aji tak mumpung. Bukan tanpa alasan aku menawarinya mengetik, mengingat kami punya lebih dari enam komputer di rumah. Paviliun rumah memang sejak lama aku jadikan rental komputer dan warnet. Meski awalnya tak setuju karena orang tuaku berpikir kami tak kekurangan uang, toh rental yang aku kelola kemudian berjalan semakin baik. Uang mengalir, pelanggan puas. Di sisi lain, aku tak pernah lelah menanti Andy pulang. Tidak masalah apakah ia pulang lebih awal, seperti yang sesekali terjadi, atau bahkan menjelang pagi. Sosoknya yang kukuh dengan ransel hitam di punggungnya, tak pernah terlewat dari mataku.
“Aku ingin jadi istrimu, Mas.” Bisikku lagi.
Tahun kedua berlalu, dan waktu makin meluruhkan hatiku atas sosok keras bernama Andy. Lelaki tegap, dengan kulit kecoklatan yang baik hati dan perhatian.
“Pagi-pagi begini sudah buka”?
Aku mengangguk. Menyembunyikan debaran jantung yang gemuruh, dan napas yang tersenggal karena berlari dari kamar, hanya untuk mengejar bayangnya.
“Mas Andy pun sepagi ini sudah jalan? Biasanya jam tujuh seperempat, kan?”
Lelaki itu tertawa. Giginya yang kecil-kecil berbaris rapi. Memberikan pemandangan yang membuatku jatuh cinta, lagi dan lagi. Perasaan yang mambuatku seperti tak pernah merasa cukup mengambil kursus. Kemaren belajar masak, lalu bikin kue, kemudian menjahit, ahh apa lagi? Biarlah yang penting aku bisa membahagiakan Andy.
Di depanku lelaki pujaan itu masih tersenyum. Baru kemudian kusadari sesuatu yang membuatku tersipu. Apa kataku barusan? Tujuh seperempat? Ah, pengamatan yang sedetil itu, sungguh memalukan! Pikirku terlambat.
Tapi Andy menutup perasaanku yang tak karuan dengan senyum lebar, dan sebuah buku di tangannya.
“Untukmu, Mia. Belum terlalu lama terbit. Bagus sekali isinya tentang ………”.
Dan lelaki yang tadi berjalan tergesa-gesa, untuk sesaat seperti lupa bahwa ia sedang berburu waktu. Dengan antusias kedua tangannya bergerak-gerak, memberiku gambaran sepintas isi buku yang disodorkannya.
Wajahnya yang semangat.
Aku menatapnya, dengan perasaan terjerembab. Kagum dengan sosoknya yang cerdas, sekaligus merasa beruntung karena aku diberi kesempatan mencintainya.
Hari-hari kami sederhana namun indah. Ia membawakanku banyak buku, yang kubalas dengan setoples kue-kue buatanku sendiri. Begitu indahnya hingga tahun ketiga berlalu. Kemudian terlewat tahun keempat. Selama itu, aku tak pernah lelah mengungkapkan dan menyatakan betapa ingin aku menjadi istrinya.
Andy tak pernah menjawab keinginanku. Aku menenangkan diri dengan berbagai pikiran positif. Barangkali kesibukan, mungkin ia belum merasa siap, ucapku menghibur hati, setiap kali perasaan ragu timbul,
Tapi kesabaran akan penantian, boleh jadi hanya milikku. Sebab Ibu kemudian seperti tak punya kerjaan lain, kecuali memburuku dengan kalimat itu.
“Menikahlah, Mia. Apalagi yang kau tunggu?”
Andy! Tak ada yang lain. Dan tak bisa yang lain!
Tahun berikutnya, Ayah ikut mendesakku.
“Anak Om Hidayat baik, Mia. Kehidupannya pun mapan. Dia direktur termudah, di perusahaan Om Hidayat.”
Aku tidak sedikitpun tertarik. Lelaki yang kaya karena cucuran harta orang tua, mana bisa memenangkan hatiku? Pikiranku terbawa pada Andy. Sosoknya, kerja kerasnya, peluh keringat yang tampak jelas masih menempel di dahinya, setiap melintasi jendela kamarku.
Anak Om Hidayat mungkin baik, tapi dia tidak seperti Andy.
Lalu calon-calon lain disodorkan. Tetapi setiap kali, kepalaku makin terlatih menggeleng dan melahirkan helaan napas putus asa dari Ayah.
Ibu mendekatiku dengan cara serupa. Menawarkan calon demi calon yang dirasanya pantas dan mengangkat martabat orang tua.
Tapi selalu saja kutemukan nilai minus pada mereka. Agung, tak pernah serius. Guruh terlalu adventurir buat seorang Mia yang pecinta rumah. Sementara Edi terlalu matematis.
Cuma Andy, yang cerdas dan memiliki sikap merakyat, yang merebut semua nilai plus, bahkan dalam kesederhanaannya.
Cuma Andy, yang membuatku tak sungkan. Merendahkan harga diri dengan berkali-kali mengungkapkan harapanku. Tak pernah bosan membisikkan kalimat itu.
         “Aku ingin menjadi istrimu.”
Namun seperti yang sudah-sudah, kalimatku hanya terbawa angin, dan menguap tanpa bekas. Andy, seperti tak menyediakan tempat, untuk sebuah pernikahan.
         “Cinta.”
         Suatu hari kudengar kalimat itu dari bibirnya. Jelas, tanpa keraguan.
         “Cinta harusnya saling mengerti, hanya dengan menatap. Bukan begitu Mia? Cinta, harusnya tak perlu membuat dua orang kekasih harus saling mengemis. Cinta ….. “
         Ia mendesah. Pandangannya nanar. Aku bisa merasakan kesedihan hatinya hari itu.
         Tapi cintaku tak berkata apa-apa lagi. Ia pergi setelah lebih dulu menyodorkan sebuah buku yang membuatku menangis berhari-hari. Sungguh belum pernah ada kisah asmara yang kubaca dan menorehkan begitu banyak kesedihan, setelah Romeo dan Juliet.
         “Bagus sekali, Mas. Mia sampai menangis dibuatnya.”
         Andy hanya tersenyum tipis. Tangannya yang kokoh menerima buku yang kukembalikan. Allah, begitu ingin aku bersandar dalam rengkuhannya.
         Tapi tangan itu selalu sopan, tak pernah menjamahku.
         “Cinta itu menghormati, Mia. Cinta tak saling memanfaatkan.”
         Aku mengangguk. Seperti biasa terbius oleh kata-kata Andy. Terpesona oleh akuratnya kata dan laku lelaki itu.
         Andy tak menyentuhku, bukan tak cinta. Justru karena ia cinta. Bukankah seperti katanya, cinta itu tak kurang ajar? Cinta itu menghormati?
         “Mas, aku ingin menjadi istrimu,” bisikanku mulai bercampur isak. Ah, betapa inginnya. Kenapa Andy tak bisa mengerti? Bukankah dua orang yang saling menyinta harusnya saling memahami, hanya dengan memandang?
         Lalu bertubi-tubi, kegembiraan yang menyedihkan itu datang.
         “Mbak Mia, maafkan Ita.”
         Aku mengangguk. Meski sesudahnya aku perlu berhari-hari untuk menumpahkan tangis dalam diam di bantalku.
         Lalu Risa, Nina, dan terakhir …
         “Mbak, Linda minta maaf.”
         Giliran adik bungsuku meminta. Aku mengangguk. Menahan air mata yang menggayut memberati mataku. Seharusnya aku bahagia, adik-adikku menamatkan kisah cinta mereka lebih dini.
         Pernikahan adik bungsuku dirayakan besar-besaran oleh kedua orang tua kami. Seolah Ibu dan Ayah telah letih, dan memutuskan tak perlu menyimpan sedikit pun tabungan untuk anak mereka yang sulung.
         Tapi tahun memang berlalu secepat malam tiba. Aku tak menyadari kapan Ibu dan Ayah mulai berhenti memintaku menikah. Yang kutahu tak ada lagi nama-nama yang mereka sodorkan padaku. Awalnya hal itu membuatku merasa bebas, ya… bebas menunggu Andy. Baru kemudian kusadari hatiku yang hempas, anehnya oleh sesuatu yang tak pernah berubah.
         Andy tak berubah sedikitpun. Masih seperti dulu. Pergi jam tujuh seperempat, dan pulang ketika malam tenggelam. Sosoknya pun masih sama, sabar, kuat dan perhatian.
         Aku pun tak pernah berubah. Masih menemani dengan setia. Berdandan rapi di pagi hari untuk melepasnya kekantor. Malamnya, menanti kepulangan lelaki itu meski hanya lewat gorden jendela kamarku.
         Tidak tahukah Andy bahwa kedua mataku ini hanya bisa terlelap setelah memastikan sosoknya yang gagah memasuki rumah?
         Tapi ketiadaan kemajuan dalam hubungan kami tidak membuatku berhenti meminta. Seperti juga malam itu.
         “Mas, aku ingin menjadi istrimu,” kataku pelan dengan air mata meleleh.
         Tapi Andy meski tetap ramah dan baik hati, seperti yang sudah-sudah tak juga menanggapi. Padahal kesabaranku, bakti dan kesetiaanku…. Lalu kue-kue yang selalu berganti resep setiap minggu?
         “Bikin kue apalagi sepagi ini, Mia?”
         Aku tak menjawab pertanyaan Ibu. Sudah pukul tujuh lewat sepuluh. Lima menit lagi Andy akan lewat, dan aku tak boleh terlambat.
         Kakiku bergegas ke pintu depan. Di tanganku, setoples kue coklat bertabur kismis, tampak manis dan menggoda.
         Bersyukurlah, dalam kesederhanaan. Dalam ketiadaan. Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki.
         Andy sering mengulang-ulang kalimat itu. Mungkin maksudnya supaya aku tak lagi berulang-ulang mengucapkan kalimat itu, keinginanku untuk menjadi istrinya. Aku mengangguk. Melambaikan tangan pada Andy yang pagi itu melintas dengan banyak tas di tangan.
         Berikutnya adalah hari-hari yang tak kumengerti. Sebab Andy tak pernah kelihatan lagi. Ia lenyap dan dengan cepat kusadari ketika malam itu hingga adzan subuh bergema, aku tak melihat lelaki tercinta itu memasuki rumahnya.
         Perasaan panik serta merta melanda diriku. Ya Allah, sesuatu mestillah menimpa lelaki terkasih itu.
         Tapi, kecuali aku, seperti tak ada orang lain yang merasa kehilangan. Bahkan tidak Ayah dan Ibu, serta adik-adiknya yang enam orang itu.
         Aku mulai menangis. Selama beberapa hari, bahkan tak ada sesuap nasi pun yang bisa kutelan. Ketika sepekan lewat dan Andy tak juga kembali, aku menenggelamkan diri dalam kamar. Menguncinya dan tidak membiarkan siapapun mengusik kesedihaanku.
         Andy, sesuatu pasti terjadi pada dia! Batinku tak mungkin dibohongi. Keluarga Andy pastilah hanya menghibur ketika mengatakan  lelaki itu mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar di luar negeri. Tidak mungkin Andy tak mengabarkan padaku informasi sepenting itu. Bukankah aku cintanya, seperti dia cintaku?
         Setiap hari, kuhabiskan waktu dengan meringkuk di kamar, sementara mataku terus terpaku, mengintip dari balik gorden, mencari-cari bayangan Andy yang bisa kapan saja datang, mungkin dalam keadaan terluka. Oh Tuhan!
         Kedua mataku terasa penat karena terlalu banyak menangis dan terjaga. Aku tak lagi ingat makan, mandi, bahkan tak peduli sama sekali dengan kelangsungan rental yang kurintis. Andy lebih penting dari itu semua!
         Ibu dan Ayah serta adik-adikku tentu saja terlihat sedih. Tapi mereka sama sekali tak paham apa yang kurasa. Gelombang kepedihan, perasaan hampa, seolah hampir seluruh nyawaku tercabut, membuatku tak memiliki keinginan melakukan apapun.
         Syukurnya, melewati tiga bulan dalam masa-masa berduka, setitik harapan muncul.
         Andy tak apa-apa. Perasaanku mengatakan dia masih hidup, dan bisa pulang kapan saja. Mungkin sebentar lagi.
         Lalu tubuhku dirasuki tenaga baru. Hari itu kuputuskan keluar kamar. Sinar matahari yang selama ini kumusuhi, segera saja menyipitkan mataku. Tapi kegembiraan meledak-ledak, mengalahkan semua keengganan.
         Cepat, seperti tak ingin kehilangan waktu, aku mengambil baju yang paling baik yang kupunya, lalu berlari ke kamar mandi. Menyeka tubuhku keras-keras dengan spon sabun, hingga bersih dan penuh dengan aroma harum sabun. Selepas mengenakan baju, kusemprotkan minyak wangi, lalu berhias secantik mungkin.
         Orang-orang yang tak mengerti mengatakan bedakku terlalu tebal. Aku hanya mencibir. Mereka tak memahami sosok istimewa yang kunanti.
         Tapi hari itu Andy belum pulang. Tak apa. Yang penting adalah aku selalu siap, jika ia sewaktu-waktu datang. Bajuku harus rapi, tubuhku harus wangi, rambutku harus selalu dikeramas tiap hari. Bedak, sedikit lipstik kucoretkan di bibirku yang akhir-akhir ini sering pecah-pecah. Aku tak ingin ada yang terlewat. Semua harus sempurna, ketika Andy  pulang nanti.
         Lelaki itu sudah pergi lama, ia pasti kangen padaku. Pada canda tawa kami, pada hubungan sederhana namun indah yang selama ini terjalin. Ia juga pasti rindu dengan kue-kueku. Ya Allah, sudah berapa lama aku tak lagi membuat kue-kue dan menaruhnya di toples, untuk Andy?
         Maka sejak hari itu, telah kutekadkan, supaya tak ada hari berlalu tanpa kue-kue baru yang kubikin. Bukankah sebentar lagi tahun baru tiba, dan Andy mungkin akan pulang?
         Ketika tahun baru lewat, dan aku menunggu Andy di depan pagar rumah kami hingga kedinginan, Ibu menyelimuti tubuhku yang mengigil dengan selimut. Tapi aku tetap menunggu.
         Mungkin Andy akan pulang ketika musim liburan. Mungkin bulan puasa tahun depan. Emmmm…tidak! Aku tersenyum. Andy akan pulang lebaran tahun depan, pasti!
         Pikiran itu membawa langkahku keruang dalam. Bukan ke kamar seperti harapan kedua orang tuaku. Pikiranku padat oleh banyaknya pekerjaan yang akan menungguku sampai Andy pulang nanti. Membuat kue-kue kesukaan lelaki tercinta itu. Juga baju baru. Sambil tanganku sibuk mengaduk adonan tepung terigu bercampur gula, keju dan entah apa lagi, pikiranku mengembara. Mengenang Andy. Betapa rindunya.
         Besok dan besoknya lagi, kesibukan yang sama menungguku. Kue-kue dan jahitan baju baru. Setiap hari. Aku ingin siap ketika Andy pulang. Aku ingin rapi, ingin cantik.
         Sedikitpun tak ada kesangsian akan kesetiaan Andy padaku. Meski terdengar kabar Andy telah menikah, atau Andy sudah betah di luar negeri dan tak ingin kembali, aku tak pernah percaya.
         Suatu hari Andy akan pulang dan memenuhi permintaanku untuk menjadi istrinya. Seperti yang selama ini selalu kubisikkan dalam hatiku menjelang tidur.
         “Mas, aku ingin menjadi istrimu.”
         Dan aku tahu, Andy mengerti perasaanku sepenuhnya. Permintaanku.
         Sebab cinta harusnya saling mengerti, hanya dengan memandang. ( Bukan begitu, Mia? ) Cinta, harusnya tak perlu membuat dua orang kekasih saling mengemis. Cinta ……. 

Taken from Aku Ingin Menjadi Istrimu by Pipit Senja

Selasa, 21 Desember 2010

ROBOHNYA SURAU KAMI



Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.
Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengansegala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.
Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasihdan sedikit senyum.
Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.
Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi.
Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.
Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek, "Pisau siapa, Kek?"
"Ajo Sidi."
"Ajo Sidi?"
Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo
akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.
Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi. "Apa ceritanya, Kek?"
"Siapa?"
"Ajo Sidi."
"Kurang ajar dia," Kakek menjawab.
"Kenapa?"
"Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggoroh tenggorokannya."
"Kakek marah?"
"Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal."
Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, "Bagaimana katanya, Kek?"
Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, "Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?"
Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.
"Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya. Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Astagfirullah kataku bila aku terkejut. Masya Allah kataku bila aku kagum. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk."
Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku, "Ia katakan Kakek begitu, Kek?"
"Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya."
Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.
"Pada suatu waktu, ‘kata Ajo Sidi memulai, ‘di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seorang yang di dunia di namai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemu nanti’. Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya.
Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.
‘Engkau?’
‘Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.’
‘Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.’
‘Ya, Tuhanku.’
‘apa kerjamu di dunia?’
‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.’
‘Lain?’
‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.’
‘Lain.’
‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’
‘Lain?’
Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum di katakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap
kering oleh hawa panas neraka itu.
‘Lain lagi?’ tanya Tuhan.
‘Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Maha Tahu.’ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya.
Tapi Tuhan bertanya lagi: ‘Tak ada lagi?’
‘O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.’
‘Lain?’
‘Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan, aku pun bersyukur karena Engkaulah Mahatahu.’
‘Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?’
‘Ya, itulah semuanya, Tuhanku.’
‘Masuk kamu.’
Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap.
Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi
sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga.
‘Bagaimana Tuhan kita ini?’ kata Haji Saleh kemudian, ‘Bukankah kita di suruh-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-
Nya ke neraka.’
‘Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,’ kata salah seorang diantaranya.
‘Ini sungguh tidak adil.’
‘Memang tidak adil,’ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.
‘Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.’
‘Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.’
‘Benar. Benar. Benar.’ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.
 ‘Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.
‘Kita protes. Kita resolusikan,’ kata Haji Saleh.
‘Apa kita revolusikan juga?’ tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.
‘Itu tergantung kepada keadaan,’ kata Haji Saleh. ‘Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.’
‘Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita perolah,’ sebuah suara menyela.
‘Setuju. Setuju. Setuju.’ Mereka bersorak beramai-ramai.
Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan.
Dan Tuhan bertanya, ‘Kalian mau apa?’
Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu, mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ditinjau kembali dan memasukkan ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab-Mu.’
‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.
‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.’
‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?’
‘Ya, benarlah itu, Tuhanku.’
‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan?’
‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’ Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.
‘Di negeri mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?’
‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’
‘Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?’
‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’
‘Negeri yang lama diperbudak negeri lain?’
‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’
‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’
‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’
‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’
‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.’
‘Engkau rela tetap melarat, bukan?’
‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’
‘Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’
‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’
‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya, bukan?’
‘Ada, Tuhanku.’
‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh,
tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!"
Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu.
‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh.
‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara
semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.’
Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek.
Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.
"Siapa yang meninggal?" tanyaku kaget.
"Kakek."
"Kakek?"
"Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur."
"Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara," kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.
Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia.
"Ia sudah pergi," jawab istri Ajo Sidi.
"Tidak ia tahu Kakek meninggal?"
"Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis."
"Dan sekarang," tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab, "dan sekarang kemana dia?"
"Kerja."
"Kerja?" tanyaku mengulangi hampa.
"Ya, dia pergi kerja."


*taken from ROBOHNYA SURAU KAMI oleh A.A Navis*

Kamis, 16 Desember 2010

163 SURAT


A

nak kecil itu percaya, Ia dapat menulis Surat pada Allah. Katanya, Masa Tuhan Mahakuasa tak bisa baca? Masa Ia tak bisa kirim malaikat untuk ambil surat di kotak surat oranye di pinggir jalan? Masa Ia hanya mau mendengar orang yang sujud menyusun kata dalam do’a? Masa Ia tak bisa berkomunikasi secara tertulis? Masa di surga yang serba ada itu, nggak ada kantor pos?”
      Dan, anak itu menulis surat pada Allah, kapanpun ia ingin. Di dunia ini, hanya ia dan ibunya yang tahu kegiatan menulis surat itu. Di luar dunia, tentu Allah dan para malaikat-Nya. Yang ditulis macam – macam mulai dari pistol air yang diisi sirop strawberry hingga beda vitamin dan obat.
      Diantara topik – topik itu ada keluhan yang tak bisa ia simpan. Ngomong – ngomong, Allah, kenapa Allah ciptakan kaki kiri dan kananku berhadapan? Tidak lurus menghadap depan, seperti kaki orang kebanyakan? Tidakkah Allah tahu, itu membuatku sulit sekali bergerak.
      Anak itu tahu dari ibunya yang penyabar, selain tulang kakinya yang tumbuh mengecewakan, jantungnya tak sempurna. Dinding antar serambi dijantungnya bocor. Tentang jantung ini, ia tak tertarik, terlalu sulit untuk membayangkan seperti apa jantung itu. Apalagi, memebayangkan jantung itu punya dinding yang bocor.
      Ia juga pernah dengar, jantung bocor itu bisa berujung pada kematian. Kematian? Ah, seandainya itu terjadi, apa sih buruknya kematian? Bukankah si Luna juga mati? Jadi, mati itu artinya, bertemu si Luna, hemmmm lumayan.
“Ibu, ini surat hari ini. “
“Ya, nak “Ibunya mencium kedua pipinya.
“Jangan lupa di poskan. Aku sudah tiga minggu tak menulis surat. Nanti Allah mencari – cari aku. Ibu punya perangko? “
“ Masih nak, Ibu sudah siapkan “.
Sang anak menempelkan pipinya pada pipi sang ibu.
Ketika deru mobil membawa putranya menjauh, sang Ibu membuka amplop dan membaca.
Allah, gini, ya…
Tadi pagi Guru Agama bilang, Allah sang pencipta punya banyak karunia. Makanya ada orang bisa nyanyi kayak Krisdayanti, atau punya badan gede kayak Ade rai, terus, Guru Agama bilang, “ Allah  juga beri umat-Nya kecerdasan. Seperti, Lukman, sang juara kelas “. Mata Guru Agama ngeliatin aku. Mata temen-temen sekelas juga. Hemmmm tapi aku kepingin tahu, kenapa sich, waktu Allah kasih karunia ke aku, nggak tanya-tanya dulu? Biar aku bisa milih. Aku, sich sebenernya lebih kepingin bisa lari, daripada jadi juara kelas.
      Sang Ibu melipat surat itu dan membawanya kekamar. Dalam sebuah laci dikamar itu sudah tersimpan 149 surat dari anaknya kepada Allah. Ini surat ke-150. Sebagai Ibu, dia sering bertanya-tanya, berapa jumlah akhir surat itu. Tapi bulu lehernya yang sering berdiri serentak, membuat ia enggan. Hanya dua sebab yang akan menghentikan surat tersebut. Pertama, si bungsu akhirnya tahu bahwa suratnya tak pernah terkirim serta antara manusia dan Allah tak terjembatani oleh perangko, tapi oleh Iman. Kedua, ketika kebocoran diding jantung si bungsu membuatnya langsung bertemu Allah.
      Untuk yang kedua ini, ia tak berani membayangkan. Untuk yang kedua ini, ia tak pernah sepenuhnya pasrah. Untuk yang kedua, ia selalu lekas – lekas menutup matanya. Aku tahu ia hanya titipan. Tapi, titipkanlah lebih lama.
     
      Ibu, pulang, Aku sesak. Demikian bunyi teks sms yang muncul di ponselnya pagi ini. Lekas – lekas sang Ibu meninggalkan trolley yang penuh barang belanjaan dan menerobos antrean. Ibu datang, nak, Ibu datang. Dalam obrolannya dengan pengasuh sang anak. Ia menerangkan semua langkah yang harus dikerjakan. Nomor telpon Dokter Zaky, obat yang harus diambil, posisi bantal, air putih, lalu ini, lalu itu. Sepanjang jalan di panggilnya nama Allah. Sepanjang jalan di makinya mobil – mobil lain.
“Nak” dilihatnya bibir biru itu.
Ia melihat kedinding. Sepertinya dia melihat banyak orang berbaju putih berdiri di situ. Mengelilingi anaknya. Tapi, ketika ia kedipkan matanya, ternyata hanya satu orang. Dokter Zaky. Kemana orang banyak tadi?
“Sudah lebih baik, Ibu. Bisa kita bicara? ”
“Sebentar Dok” Diciumnya kening yang basah oleh keringat, dibereskannya anak rambut di sekitarnya. Putra tercintanya tampak kelelahan mencari udara untuk napasnya sendiri. Kalau saja Ibu bisa pinjamkan paru-paru Ibu, Nak!
“Sakit, sayang?”
“Enggak, Bu.” Bibir beku itu berusaha tersenyum.
“Ibu, aku nulis surat lagi. Ibu betul-betul mengirim Surat itu nggak, sich? ”
“Eh, kenapa?” Ibunya meremas jemari gugup.
“Kok, Allah nggak pernah bales?”
“Nak, Ibu kan pernah bilang, Allah tak akan balas.”
“Hemmmm…..aku lupa.”
Ibu tersenyum dan membelai rambut anaknya. Ditatapnya sepasang mata itu. Ibu mencintaimu, Nak. Ingat itu, ya.
“Ibu keluar sekarang, ya, sayang?”
Sang anak mengangguk. “Bu, kalau aku jadi Allah, aku pasti bales surat orang-orang. Kan kasihan orang dibiarin nunggu, apalagi, yang sakit kayak aku.”
Ibu tersenyum pada Dokter dan mengajaknya berlalu. Dokter mengatakan telah terjadi atrial septal defect. Artinya, ada kebocoran pada dinding di serambi jantung. Bocornya makin parah dari hari ke hari. Padahal, jantung memompa darah segar ke seluruh tubuh dan menerima darah kotor dari paruh-paruh. Dinding bocor itu membuat darah bersih dan darah kotor bercampur sehingga jantung bekerja makin keras. Makin keras. Makin keras. Hingga akhirnya kelelahan.
Sang ibu tak menangis, meskipun sangat ingin. Dipegangnya lengan Dokter. ” Bisakah Dokter katakan, kapan saat itu tiba?”
“Ibu, saya tidak ingin mendahului Allah. Berdo’alah untuk yang terbaik.”
Sang ibu hanya menatap. Tepekur. Anak itu, sembilan bulan bernafas bersamanya. Muncul di bumi dengan kaki berhadapan. Yang kiri jauh lebih kecil daripada yang kanan. Hatinya hancur. Tapi, suaminya berbisik, “Allah menitipkan makhluk tak berdaya pada kita, sepenuhnya karena cinta. Kakinya memang kecil dan rapuh, Aminah. Tapi, kaki karena otak memberi parintah. Mari kita isi kepalanya, Aminah, agar bisa menuntun kaki yang tak berdaya.” Kata-kata itu membuka mata hatinya yang terkatup.
Namun, ketika dijumpainya bibir si bungsu berwarna biru sepulang sekolah, kesabarannya habis. Apa lagi ini? Apal lagi? Dokter menyimpulkan, ada yang tak berfungsi baik pada jantungnya.
Ia habis akal. Limbung. Ia hukum dirinya sendiri. Tak ingin bertemu siapa-siapa. Tak percaya pada siapa-siapa. Hingga pukul satu dini hari, di dengarnya si bungsu berkata pada abangnya. “Sini, kukerjakan PR berhitungmu”. Dengan tekun ia mengerjakan tugas abang tersayangnya itu.
Setengah jam kemudian PR itu di periksa sang ibu yang keheranan. Ia tak menemukan kesalahan apa-apa. Diteleponnya sahabatnya yang psikolog.
Mereka bertemu dan didapatnya jawaban. “Aminah, anakmu luar biasa cerdas. Ia bisa jadi apa saja, asal kau sungguh-sungguh memperhatikannya.”
Lantas ia putuskan untuk menyusun keping hati dan jiwanya yang berserakan. Ia bangkit. Ia rangkul sang putra. Ia usap dadanya. Ia tahu disitu ada jantung yang dindingnya bocor. Ia usap kepalanya. Ia tahu disitu ada otak yang sinarnya menyala-nyala. Ia pandang kaki yang berhadapan dan kecil sebelah itu.
Tongkat akan menyelamatkannya. Anakku sungguh tak berbeda dari anak manapun. Ia sekadar lebih cerdas.
“Ibu.”
Sang ibu terlonjak dan segera kembali kekamar.
Anaknya tersenyum sambil melambaikan kertas putih. Ia mengambil dan membacanya dalam diam.
Tadi rasanya kita bertemu, ya? Bener nggak sich? Itu dimana, ya? Kayaknya aku sering kasitu. Tempatnya luas seperti lapangan basket sekolah Abang. Aku mau teriak, “Allah! Allah!” karena rasanya Allah deket banget, tapi, kok, aku nggak bisa lihat, ya? Aku mau pamerin handphone Ayah yang baru. Yang bisa motret, tuh. Ada kamera keciiiil, tapi, hebat banget! Kemaren aku potret si lucky ( anak si luna ) pakai itu. Biar Allah bisa suruh Malaikat ceritain ke si Luna, anaknya udah kayak apa sekarang …… udah segede apa ………
Sang ibu menggigit bibirnya.
“Betul. Nak? Kamu lihat Allah?” diguncangnya bahu anaknya perlahan.
“Kayaknya.”
“Lalu?”
“Lalu ……. Hemmmmm….Mbak Ijah nangis-nangis bangunin aku. Terus, aku merasa sesek banget. Terus, aku SMS Ibu.”
Pengalaman bertahun-tahun telah mengajarkan sang ibu bahwa senyuman bisa menahan jatuhnya air mata.
Sejak serangan terakhir, Sang anak makin jarang kesekolah. Surat-surat juga makin banyak. Karena, kadang-kadang ia menulis lebih dari sekali sehari.
Dalam suratnya ibunya menemukan banyak pertanyaan yang tak bisa ia jawab, seperti ini:
Allah,
Orang-orang selalu bilang, Engkaulah Sang Maha adil. Aku sering disebut-sebut sebagai contoh. Lihat si Lukman. Kakinya boleh pengkor, tapi otaknya ……… Allah memang Mahaadil, begitu kata orang-orang.
Tapi tadi Ibu cerita, Einstein yang pintar banget itu, kakinya biasa-biasa saja? Terus, Dokter Zaky yang sering masuk koran, kakinya juga nggak kayak aku?, ada juga, ya, orang sehat yang pinter. Terus, kenapa aku enggak? Mana adilnya, dong?
Ibu menyimpan surat itu di kamar yang sama. Di laci yang sama. Ibu menghitung surat-surat yang tertumpuk. Seratus enam puluh satu.
Pagi itu sang Ibu membangunkan ketiga putranya dengan kecupan, seperti biasa. Di depan ranjang si bungsu ia terpekur. Dada itu....Ya..Allah...dada itu tak bergerak. Ia mencium kening si bungsu sambil berharap perkiraannya salah. Dingin, sang Ibu memejamkan mata. Lekas-lekas ia memanggil suami dan kedua putranya dalam satu teriakan.
Sang Ayah datang dan lekas-lekas membenamkan kepala sang Ibu di dadanya. Di dada suaminya, wanita itu hanya menutup mata, menggigit bibirnya. Ia tidak menangis. Ia tidak bisa berbuat apa-apa.ia hanya merasakan tulang di sekujur tubuhnya hilang. Ia hanya seonggok daging yang lemas tak berdaya.
Beberapa jam kemudian banyak orang berdatangan. Mencium pipi, sang Ibu merangkulnya. Mengungkapkan ucapan duka cita. Ia seperti robot yang hanya bisa berkata ”terima kasih, do’akan Lukman. Terima kasih, do’akan Lukman”. Beratus-ratus bahkan beribu-ribu kali.
Dari antara tamu-tamu itu, Ijah sang pengasuh datang membawa sehelai kertas. ” Punya Lukman bu, saya lupa memberikan pada ibu”.
Sang Ibu duduk diam sebentar, membaca.
Aku hanya mau bilang, bosen nich minum obat. Pahit!! Lagian, kenapa sich aku musti minum obat melulu? Mati khan nggak apa-apa? Kita bisa bertemu. Bisa bercerita-cerita. Aku bisa lihat si luna. Trus aku nggak mesti ngerasain sesek lagi. Dokter Zaki nggak mesti ngebut dari rumah sakit. Kata orang baru mati, klo’ Allah panggil. Hemmm...jangan-jangan kemaren Allah panggil aku bisik-bisik ya? Kurang kenceng, kali? Aku kok nggak denger apa-apa? Nanti, klo’ Allah panggil aku lagi dan aku nggak dateng-dateng, sabar yah...itu artinya aku sedang nonton lord of the ring : the two tower. Aku suka banget. Aku tonton sepuluh kali. Di sana bisa nonton DVD nggak?
Tamu terus berdatangan. Seorang anak muda bertanya, ”Ibunya Lukman?” sang ibu mengangguk, alisnya mengeryit.
”Lukman bilang, kalau kangen dia, baca saja surat-suratnya”.
Sang ibu melongo. Di tatapnya orang itu tak brkedip. Diabaikannya semua tamu yang menyalaminya. Ia menatap tamu tadi, diantara tamu-tamu lain. Ia tersenyum padanya. Ketika ia selesai bersalaman dengan para pelayat, sang Ibu datang ketempat tamu itu duduk. Tapi, ia sudah tak ada.
Tiba-tiba sang Ibu sadar, ia tak bisa mengingat wajah orang itu. Sedikitpun. Tidak sedikitpun.
Tiga hari setelah kepergian anaknya, sang Ibu membuka laci di pinggir ranjangnya. Di sana ada tumpukan surat sang anak pada Sang Pencipta. Ia teringat anak muda yang sempat melayat. Ia percaya, orang itu malaikat, teman Lukman yang baru.
Ia mengeluarkan semua surat dan menghitungnya. Ada 163 amplop. Ia hafal isinya di luar kepala, sampai titik dan koma. Ia ingat di surat terakhir, yang ke-163, si bungsu menyebut The lord of the rings. Di bukanya surat itu, dan tertegun.

Allah,...
Tolong dong, kasih tahu Ibu, bohong itu dosa. Dosa artinya nyakitin hati Allah. Ibu selalu bilang kirim surat-surat aku. Padahal di simpan doang di laci. Tapi, Allah nggak usah marah sama Ibu. Biar tukang ngibul begitu, Ibu baik. Sayang sama Bapak dan Abang-abangku, apalagi sama aku. Kayaknya sich, Ibu tahu, bohong itu dosa. Cuma, barangkali, Ibu lupa....

Rabu, 15 Desember 2010

2 Kisah menarik Rosulullah SAW

 Suatu Kisah dari Rasulullah :
- Di suatu pagi hari, Rasulullah SAW bercerita kepada para sahabatnya, bahwa semalam beliau didatangi dua orang tamu. Dua tamu itu mengajak Rasulullah untuk pergi ke suatu negeri,
dan Rasul menerima ajakan mereka. Akhirnya mereka pun pergi bertiga.
http://alisalehwangeng.files.wordpress.com/2010/01/nabi-muhammad.jpg

Ketika dalam perjalanan, mereka mendatangi seseorang yang tengah berbaring. Tiba-tiba di dekat kepala orang itu ada orang lain yang berdiri dengan membawa sebongkah batu besar. Orang yang membawa batu besar itu dengan serta merta melemparkan batu tadi ke atas kepala orang yang sedang berbaring, maka remuklah kepalanya dan menggelindinglah batu yang dilempar tadi. Kemudian orang yang melempar batu itu berusaha memungut kembali batu tersebut. Tapi dia tidak bisa meraihnya hingga kepala yang remuk tadi kembali utuh seperti semula. Setelah batu dapat diraihnya, orang itu kembali melemparkan batu tersebut ke orang yang sedang berbaring tadi, begitu seterusnya ia melakukan hal yang serupa seperti semula.

Melihat kejadian itu, Rasulullah bertanya kepada dua orang tamu yang mengajaknya, “Maha Suci Allah, apa ini?”
“Sudahlah, lanjutkan perjalanan!” jawab keduanya.
Maka mereka pun pergi melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan, mereka mendatangi seseorang lagi. Orang tersebut sedang terlentang dan di sebelahnya ada orang lain yang berdiri dengan membawa gergaji dari besi. Tiba-tiba digergajinya salah satu sisi wajah orang yang sedang terlentang itu hingga mulut, tenggorokan, mata, sampai tengkuknya.

Kemudian si penggergaji pindah ke sisi yang lain dan melakukan hal yang sama pada sisi muka yang pertama. Orang yang menggergaji ini tidak akan pindah ke sisi wajah lainnya hingga sisi wajah si terlentang tersebut sudah kembali seperti sediakala. Jika dia pindah ke sisi wajah lainnya, dia akan menggergaji wajah si terletang itu seperti semula. Begitu seterusnya dia melakukan hal tersebut berulang-ulang.

Rasulullah pun bertanya, “Subhanallah, apa pula ini?”
Kedua tamunya menjawab, “Sudah, menjauhlah!”

Maka mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Selanjutnya mereka mendatangi sesuatu seperti sebuah tungku api, atasnya sempit sedangkan bagian bawahnya besar, dan menyala-nyala api dari bawahnya. Di dalamnya penuh dengan jeritan dan suara-suara hiruk pikuk. Mereka pun melongoknya, ternyata di dalamnya terdapat para lelaki dan wanita dalam keadaan telanjang. Dan dari bawah ada luapan api yang melalap tubuh mereka. Jika api membumbung tinggi mereka pun naik ke atas, dan jika api meredup mereka kembali ke bawah. Jika api datang melalap, maka mereka pun terpanggang.

http://abizakii.files.wordpress.com/2010/03/muhammad-saw2.jpg
Rasulullah kembali bertanya, “Siapa mereka?”
Kedua tamunya menjawab, “Menjauhlah, menjauhlah!”

Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka mendatangi sebuah sungai, sungai yang merah bagai darah. Ternyata di dalam sungai tadi ada seseorang yang sedang berenang, sedangkan di tepi sungainya telah berdiri seseorang yang telah mengumpulkan bebatuan banyak sekali. Setiap kali orang yang berenang itu hendak berhenti dan ingin keluar dari sungai, maka orang yang ditepi sungai mendatangi orang yang berenang itu dan menjejali mulutnya sampai ia pun berenang kembali. Setiap kali si perenang kembali mau berhenti, orang yang di tepi sungai kembali menjejali mulut si perenang dengan bebatuan hingga dia kembali ke tengah sungai.

Rasulullah pun bertanya, “Apa yang dilakukan orang ini?!”
“Menjauhlah, menjauhlah!” jawab kedua tamunya.
Maka mereka pun melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan kali ini, mereka mendapatkan seseorang yang amat buruk penampilannya, sejelek-jeleknya orang yang pernah kita lihat penampilannya, dan di dekatnya terdapat api. Orang tersebut mengobarkan api itu dan mengelilinginya.

“Apa ini?!” tanya Rasulullah
“Menjauhlah, menjauhlah!” jawab kedua tamunya.
Lalu mereka melanjutkan perjalanan lagi. Dalam perjalanan mereka menemukan sebuah taman yang indah, dipenuhi dengan bunga-bunga musim semi. Di tengah taman itu ada seorang lelaki yang sangat tinggi, hingga Rasulullah hampir tidak bisa melihat kepala orang itu karena tingginya. Di sekeliling orang tinggi itu banyak sekali anak-anak yang tidak pernah Rasul lihat sebegitu banyaknya.

Melihat itu, Rasulullah kembali bertanya, “Apa ini? Dan siapa mereka?”
Kedua tamunya menjawab, “Menjauhlah, menjauhlah!”
Maka mereka pun pergi berlalu. Lalu mereka menyaksikan sebuah pohon yang amat besar, yang tidak pernah Rasul lihat pohon yang lebih besar dari ini. Pohon ini juga indah. Kedua tamu Rasul berkata, “Naiklah ke pohon itu!”

Lalu mereka pun memanjatnya. Rasul dituntun menaiki pohon dan dimasukkannya ke dalam sebuah rumah yang sangat indah yang tak pernah Rasul lihat seumpamanya. Di dalamnya terdapat lelaki tua dan muda. Lalu mereka sampai pada sebuah kota yang dibangun dengan batu bata dari emas dan perak. Mereka mendatangi pintu gerbang kota itu. Tiba-tiba pintu terbuka dan mereka memasukinya.

Mereka disambut oleh beberapa orang, sebagian mereka adalah sebaik-baik bentuk dan rupa yang pernah kita lihat, dan sebagiannya lagi adalah orang yang seburuk-buruk rupa yang pernah kita lihat. Kedua tamu yang bersama Rasulullah berkata kepada orang-orang itu, “Pergilah, dan terjunlah ke sungai itu!”
Ternyata ada sungai terbentang yang airnya sangat putih jernih. Mereka pun segera pergi dan menceburkan dirinya masing-masing ke dalam sungai itu. Kemudian mereka kembali kepada Rasululullah dan dua tamunya. Kejelekan serta keburukan rupa mereka tampak telah sirna, bahkan mereka dalam keadaan sebaik-baik rupa!

Lalu kedua orang tamu Rasulullah berkata, “Ini adalah Surga ‘Adn, dan inilah tempat tinggalmu!”
“Rumah pertama yang kau lihat adalah rumah orang-orang mukmin kebanyakan, adapun rumah ini adalah rumah para syuhada’, sedangkan aku adalah Jibril dan ini Mika’il. Maka angkatlah mukamu (pandanganmu).”
Maka mata Rasulullah langsung menatap ke atas, ternyata sebuah istana bagai awan yang sangat putih. Kedua tamu Rasulullah berkata lagi, “Inilah tempat tinggalmu!”

Rasulullah berkata kepada mereka, “Semoga Allah memberkati kalian.”
Kedua tamu itu lalu hendak meninggalkan Rasulullah. Maka Rasulullah pun segera ingin masuk ke dalamnya, tetapi kedua tamu itu segera berkata, “Tidak sekarang engkau memasukinya!”
“Aku telah melihat banyak keajaiban sejak semalam, apakah yang kulihat itu?” tanya Rasulullah kepada mereka.

Keduanya menjawab, “Kami akan memberitakan kepadamu. Adapun orang yang pertama kau datangi, yang remuk kepalanya ditimpa batu, dia itu adalah orang yang membaca Al Qur’an tetapi ia berpaling darinya, tidur di kala waktu shalat fardhu (melalaikannya). Adapun orang yang digergaji mukanya sehingga mulut, tenggorokan, dan matanya tembus ke tengkuknya, adalah orang yang keluar dari rumahnya dan berdusta dengan sekali-kali dusta yang menyebar ke seluruh penjuru.

Adapun orang laki-laki dan perempuan yang berada dalam semacam bangunan tungku, maka mereka adalah para pezina. Adapun orang yang kamu datangi sedang berenang di sungai dan dijejali batu, maka ia adalah pemakan riba. Adapun orang yang sangat buruk penampilannya dan di sampingnya ada api yang ia kobarkan dan ia mengitarinya, itu adalah malaikat penjaga neraka jahannam.

Adapun orang yang tinggi sekali, yang ada di tengah-tengah taman, itu adalah Ibrahim AS. Sedangkan anak-anak di sekelilingnya adalah setiap bayi yang mati dalam keadaan fitrah.”

Lalu di sela-sela penyampaian cerita ini, para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan anak orang-orang musyrik?”
Rasulullah menjawab, “Dan anak orang-orang musyrik.”
Lalu Rasulullah SAW melanjutkan ceritanya.
Adapun orang-orang yang sebagian mukanya bagus, dan sebagian yang lain mukanya jelek, mereka itu adalah orang-orang yang mencampuradukan antara amalan shalih dan amalan buruk, maka Allah mengampuni kejelekan mereka.
Maraji’: Riyadhush Shalihin
_______________
Catatan kaki:
[1] Dalam hadits riwayat Bukhari lainnya, dikisahkan bahwa kedua tamu Rasulullah itu mengatakan kepada Rasulullah, “Kamu masih memiliki sisa umur yang belum kamu jalani, jika kau telah melaluinya maka kau akan masuk rumahmu.” (HR. Bukhari)

http://4antum.files.wordpress.com/2010/02/rasulullah-saw.jpg


Kisah Rasulullah SAW- sebagai Suami dan Rasul

Kisah Rasulullah SAW sebagai pengajaran

1) Kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menampalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga mahupun untuk dijual.

2) Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyinsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur. Sayidatina
‘Aisyah menceritakan ‘Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga.

3) Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai sembahyang.’



4) Pernah baginda pulang pada waktu pagi.Tentulah baginda teramat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada kerana Sayidatina ‘Aisyah
belum ke pasar.

Maka Nabi bertanya, ‘Belum ada sarapan ya Khumaira?’ (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina ‘Aisyah yang bererti ‘Wahai yang kemerah-merahan’)
Aisyah menjawab dengan agak serba salah, ‘Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.’
Rasulullah lantas berkata, ‘Jika begitu aku puasa saja hari ini.’ tanpa sedikit tergambar rasa kesal di raut wajah baginda.

5) Sebaliknya baginda sangat marah tatkala melihat seorang suami sedang memukul isterinya. Rasulullah menegur, ‘Mengapa engkau memukul isterimu?’

Lantas soalan itu dijawab dengan agak gementar,’Isteriku sangat keraskepala! Sudah diberi nasihat dia tetap degil juga, jadi aku pukul lah dia.’
‘Aku tidak bertanyakan alasanmu,’ sahut Nabi s. a. w.
‘Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu kepada anak-anakmu?’

6) Pernah baginda bersabda, ‘sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik,kasih
dan lemah lembut terhadap isterinya.’ Prihatin,sabar dan tawadhuknya baginda dalam menjadi ketua keluarga langsung tidak sedikitpun menjejaskan kedudukannya sebagai pemimpin umat.

7) Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat.Dilihat oleh para sahabat,pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali.

Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain. Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu
langsung bertanya setelah selesai bersembahyang,

‘Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?’
‘Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sihat dan segar.’
‘Ya Rasulullah…mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergeselan di tubuh tuan?

Kami yakin engkau sedang sakit…’ desak Umar penuh cemas.
Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat untuk menahan rasa lapar baginda.
Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.
‘Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan kami tidak akan mendapatkannya buat tuan?’

Lalu baginda menjawab dengan lembut, ‘Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin,menjadi beban kepada umatnya?’ ‘Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan didunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.’

8)Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpunmakan di sebelah seorang tua yang dipenuhi kudis, miskin dan kotor.

9) Hanya diam dan bersabar bila kain rida’nya direntap dengan kasar oleh seorang Arab Badwi hingga berbekas merah di lehernya. Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencingi si Badwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.

10) Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH swtdan rasa kehambaan yang sudah sebati dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ke tuanan.

11) Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH langsung tidak dijadikan sebab untuknya merasa lebih dari yang lain, ketika di depan ramai mahupun dalam keseorangan.

12) Pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih lagi berdiri di waktu-waktu sepi malam hari,terus-menerus beribadah hinggakan pernah baginda terjatuh lantaran kakinya
sudah bengkak-bengkak.

13) Fizikalnya sudah tidak mampu menanggung kemahuan jiwanya yang tinggi.Bila ditanya oleh Sayidatina ‘Aisyah, ‘Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih
bersusah payah begini?’

Jawab baginda dengan lunak, ‘Ya ‘Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.’
Rasulullah s. a. w. bersabda,’SAMPAIKANLAH PESANKU WALAUPUN SEPOTONG AYAT..’

*taken from Tong Berisi*

Rabu, 08 Desember 2010

pisang bakar keju



gara2 homelone nih... ujan pula makin kesepian dech....
pas buka kulkas ada pisang gepok cm 3 biji, ya udah bikin pisang bakar aja aaahh.....

Bahan :
Pisang gepok
keju cheddar
Susu kental manis (aku pake yang putih, coklat lebih enak)
Margarin

Cara :
Panaskan margarin di atas wajan anti lengket lalu masukkan pisang gepok yang sudah di kupas, bolak balik hingga kecoklatan, angkat taruh di piring, beri susu kental manis diatasnya kemudian taburi dengan keju parut. siap dihidangkan.

Sabtu, 04 Desember 2010

Still loving you....

entahlah....akhir-akhir ini aku sering teringat dirimu, sudah kucoba sekuat tenagaku untuk acuhkan. aku alihkan perhatian, pikiran, ingatan ke hal2 yang lain tetap saja di tiap kedipan mataku ada dirimu. ku coba menghilangkannya dengan membaca buku, itu makin membuat aku teringat, aku alihkan dengan hangout bersama temen2, dirimu seakan mengikuti kemanapun aku pergi. aku coba membaca kitab paling dasyat Al Quran. semakin deras air mataku. karena aku tahu aku tidak ikhlas membacanya hanya karena Allah.
mungkin saat ini dirimu sudah menemukan seseorang, yah...seseorang yang sesuai denganmu, dengan keluargamu, pasti dia jauh jauh jauh lebih cantik, lebih sempurnah fisiknya, lebih cerdas, lebih santun, lebih sholikhah. aku terus berharap dan selalu berdoa untukmu, untukmu disana. semoga Allah menjagamu, menjaga keluargamu, memberikan yang terbaik untukmu dan keluargamu. aku sudah menyayangi kalian, meskipun baru sekali aku mengenal bagian dari kalian.
aku sudah memutuskan, aku tidak lagi mau berusaha melupakanmu. semakin aku mencoba keras, semakin menyiksa dan semakin aku teringat. kini aku akan menikmati tiap detik episode ini. biarlah...biarlah..jika memang pada akhirnya aku akan seperti ini sampai akhir waktuku. semoga Allah memberikanku kekuatan aku menjalani. bukankah hidup di dunia tidak akan selamanya? akan berapa tahun lagi, 10 tahun? 17 tahun? 25 tahun? yang pasti tak akan selamanya.

If We'd Go Again All The Way From The Start
I Would Try To Change Things That Killed Our Love
Your Pride Has Built The Wall So Strong That I Can't Get Through!
Is There Really No Chance To Start Once Again


(scorpion, from the bottom of my heart)

I'm still loving you.....
still loving you